“Kita mungkin harus menjalani berbagai aspek kemampuan militer kita sendiri yang pernah menjadi bagian dari kebutuhan kita,” katanya. Dia menambahkan bahwa Filipina tidak berniat perang sebagai sarana untuk mendapatkan kembali wilayah.
| Kapal Selam Kelas Kilo |
Pengadilan Tetap Arbitrase di Den Haag rencananya akan segera memutuskan kasus Filipina terhadap klaim China atas rantai Kepulauan Spratly, di mana China telah mengubah terumbu menjadi untuk lapangan terbang dan radar. Banyak pengamat memprediksi China, tidak akan menang, dan mungkin bereaksi negatif terhadap hasilnya.
Di Washington pada hari Kamis 31 Maret 2016, Presiden China Xi Jinping mengatakan bahwa negaranya akan tegas dalam mempertahankan kedaulatannya di Laut China Selatan. Tetapi sengketa itu harus diselesaikan secara damai.
Dia menegaskan janji Beijing untuk menegakkan kebebasan navigasi untuk kapal dan pesawat udara asing.
Para pejabat AS baru-baru ini telah menyatakan kekhawatirannya bahwa putusan yang tidak menguntungkan dalam kasus arbitrase Kepulauan Spratly bisa mendorong China untuk mendeklarasikan zona identifikasi pertahanan udara seperti yang terjadi di Laut China Timur pada tahun 2013.
Wakil Menteri Pertahanan AS Robert Work mengatakan AS akan melihat langkah tersebut sebagai destabilisasi.
| Tweet |
Ikuti jejak Indonesia?! Kalau Vietnam sih sudah dalam proses dilivery ..... sedangkan Indonesia masih dalam Wacana (diluar Chang Bogo Class)
BalasHapus