Tiga Kapal Perang Canggih Hasil Karya Putra-Putri Bangsa Indonesia

KCR 40 produksi PT. Palindo Marine
KCR 40 produksi PT. Palindo Marine
Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Muda TNI A. Taufiq. R meresmikan tiga kapal perang KRI Surik-645, KRI Siwar-646 dan KRI Parang-647 KCR 40 di Demaga Yos Sudarso Mako Lantamal IV Batu Hitam Tanjungpinang. Tiga kapal itu diproduksi di dalam negeri.

Dalam siaran pers yang disampaikan Dispen Lantamal IV, Sabtu (1/8/2015), Pangarmabar Laksamana Muda TNI A Taufiq menyerahkan R kepada ketiga komandan KRI serta didampingi Komandan Satuan Kapal Cepat Armada Barat Kolonel Laut (P) Suwito.

"Ketiga Kapal Cepat Rudal (KCR-40) sangat cocok untuk dioperasionalkan di perairan wilayah barat yang kondisinya lautnya relatif dangkal serta mempunyai gugusan pulau yang banyak sehingga memiliki daya pukul hit and run, ketiga kapal juga memiliki persenjataan antara lain meriam Kaliber 20 mm, meriam 12,7 mm dan senjata andalan yaitu rudal C-705," jelas Taufiq.

Dikatakan pula bahwa ketiga Kapal Cepat Rudal (KCR-40) produksi PT. Palindo Marine Shipyard Batam hasil karya putra-putri bangsa Indonesia dan akan bergabung memperkuat Satuan Kapal Cepat (Satkat) Armada Barat yang berpangkalan di Mentigi Tanjung Uban Kepulauan Riau.

Beberapa waktu lalu ketiga kapal ini KRI Surik-645, KRI Siwar-646 dan KRI Parang-647 diluncurkan pada tanggal 12 September 2014. Tiga (3) kapal tersebut telah dikukuhkan dan diresmikan masuk ke jajaran TNI AL oleh Menteri Pertahanan, Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro pada tanggal 27 September 2014 di Batam.

"Kalian tumbuhkan kebanggaan karena anda merupakan prajurit pilihan yang dipercayakan untuk mengawaki alutsista ini," tambah Taufiq.

Di samping itu pula Pangarmabar menekankan agar alutsista dirawat sebaik-baiknya karena dibeli rakyat Indonesia dan dipercayakan kepada Angkatan Laut untuk mengoperasionalkanya.

"Karena semuanya akan kita pertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat Indonesia," tutup Taufiq. (detik.com)

Sebagian Ruang Udara Indonesia Masih Dikuasai Singapura

Peta Kedaulatan Dirgantara Republik Indonesia
Peta Kedaulatan Dirgantara Republik Indonesia
Terbang di Ruang Udara Sendiri harus Izin ke Singapura ?

Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, membeberkan keprihatinannya. Pasalnya, saat menjabat Letnan Dua (Letda) pada 1974 silam, ia harus izin ke Singapura, hanya untuk menuju Tanjung Pinang, meski menerbangkan pesawat latih tempur TNI AU.

"Saya pernah terbang ke Tanjung Pinang (pada) 1974. Tapi harus lapor ke Singapura. Itu dianggap biasa. Saya di rumah sendiri, kenapa harus izin ke tetangga?," ketus Chappy dalam peluncuran buku 'Tanah Air dan Udaraku Indonesia' di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Rabu (29/7/2015).

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) itu menambahkan, saat itu bahkan Menteri Perhubungan beralasan, perizinan udara Indonesia ke Singapura untuk menjamin keselamatan.

Namun, ia justru merasa gerah lantaran terkait dengan persoalan kedaulatan. "Saya sedih, itu terkait kedaulatan," imbuhnya.

Prinsip menjaga perbatasan, lanjut Chappy, bukan menindak maling, melainkan mencegah agar maling tidak masuk. Oleh karena itu, sebagai wilayah yang menjadi penyebab perang, para prajurit militer harus memahami dan selalu menggelar latihan di kawasan perbatasan.

"Selat Malaka perbatasan. Tapi pengelolaan (udara) bukan di kita. Tentara itu perang. Kalau tidak, latihan perang di wilayah yang rawan perang. Di mana (wilayah rawan perang)? Ya perbatasan! Tentara Korsel (Korea Selatan) latihannya di perbatasan Korut (Korea Utara)," pungkas Chappy.

Cara Agar Bisa Rebut Pengelolaan Wilayah dari Singapura

Pengelolaan dan pengawasan kedaulatan udara Indonesia belum dikuasai penuh oleh pemerintah Indonesia meskipun Indonesia telah merdeka sejak 1945. Sejak 1946, wilayah udara sektor ABC atau di area Kepulauan Riau, yakni Kepulauan Natuna, masih dikendalikan oleh otoritas Singapura.

Hal ini karena sistem Flight Information Region (FIR) masih dipegang oleh menara kontrol udara atau Air Traffic Control (ATC) Singapura. Konsekuensinya pesawat sipil hingga tempur TNI harus izin kepada otoritas penerbangan sipil Singapura untuk tujuan koordinasi bila melewati wilayah sekitar Natuna. Hal ini karena diatur oleh regulasi internasional.

"Akibatnya pesawat militer latihan harus izin Singapura," kata Praktisi Penerbangan Indonesia Sudharmono pada acara diskusi navigasi dan penerbangan di Kantor LAPAN, Bogor, Kamis (19/3/2015).

Izin tersebut harus dilakukan karena menyangkut lalu lintas pergerakan penerbangan sipil di atas Natuna.
"Itu harus memberitahukan terkait keselamatan penerbangan sipil supaya nggak terjadi konflik dalam arti penerbangan bisa tabrakan," ujarnya.

Pengelolaan ruang udara oleh Singapura di atas sektor ABC sudah berlangsung sejak lama. Pemerintah Indonesia secara regulasi memang harus mengambil alih pengaturan dan pengelolaan 100% terhadap wilayah udara Indonesia.

Tantangannya adalah Singapura telah memiliki sumberdaya manusia terkait navigasi, peralatan, regulasi, hingga regulator yang sangat mumpuni dan mendukung.

"Rebut itu semua, kita harus bangun infrastruktur regulasi, SDM dan lobi. Itu lobi ICAO, IATA dengan negara lain seperti Singapura. Kita siapkan SDM dan peralatan butuh waktu 10 tahun," jelasnya.

Selain masalah kedaulatan, banyak manfaat yang diperoleh Indonesia bila ruang udara wilayah Natuna sektor ABC dipegang oleh ATC Indonesia.

"Secara ekonomi air space memang lewati laut. Di sana ada ongkos. Biaya komunikasi, biaya navigasi, biaya surveillance, biaya pengaturan lalu lintas," sebutnya. (okezone.com, detik.com)

KRI Teluk Bintuni-520 Laksanakan Uji Gladi Tugas Tempur Di Tanjung Priok, Jakarta Utara

KRI Teluk Bintuni-520
KRI Teluk Bintuni-520
Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Teluk Bintuni-520 yang dikomandani Letkol Laut (P) Ahmad Muharam dan berada di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) melaksanakan uji Gladi Tugas Tempur (Glagaspur) Tingkat L-1 yang dilaksanakan diatas kapal di Dermaga Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (29/07/2015).

Menurut Asisten Operasi Pangkolinlamil (Asops) Kolonel Laut (P) P. Rahmad Wahyudi S.E., bahwa sebelum melaksanakan latihan Glagaspur tingkat I, personel KRI Teluk Bintuni-520 telah mengikuti ujian secara tertulis di Komando Latihan (Kolat) Koarmabar, yang dibagi dalam tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan selanjutnya adalah tahap pengakhiran. Dalam pelaksanaan latihan tersebut, dilaksanakan peran-peran seperti peran operatif meliputi peran tempur bahaya kapal permukaan, kapal selam dan peran tempur bahaya udara. Sedangkan peran-peran yang lainnya yaitu peran administratif, peran darurat dan peran khusus.

Lebih lanjut Asops Pangkolinlamil mengatakan bahwa latihan Glagaspur tingkat I dilaksanakan secara rutin dua tahun sekali oleh setiap KRI yang aktif dalam menjalankan operasi sedangkan kapal yang tidak aktif atau berada dipangkalan dalam waktu yang lama maka uji L-1 harus dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Selain itu uji L-1 juga wajib dilaksanakan oleh KRI jika kapal selesai perbaikan dengan skala besar dan terjadi pergantian sepertiga dari jumlah personel yang ada atau menjalankan program yang di rencanakan oleh Komado Utama (Kotama).
KRI Teluk Bintuni-520
KRI Teluk Bintuni-520
Sasaran yang akan dicapai dalam latihan ini agar masing-masing anggota mampu mengawaki setiap Pos Tempur dan Pos Komando sesuai standard yang dipersyaratkan, sehingga memiliki kemampuan tempur sesuai dengan fungsi azasinya serta siap menghadapi tujuan operasi yang akan datang serta dapat mencapai hasil yang maksimal dalam Uji Terampil Gladi Tugas Tempur Tingkat I / L1. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme dan memantapkan pengetahuan, kemampuan, serta keterampilan tempur ABK secara individu maupun kelompok dalam bidang administrasi, prosedur dan komando yang berlaku dengan baik dan benar dalam rangka menghadapi pelaksanaan Uji Terampil Gladi Tugas Tempur Tingkat I, tambah Asops Pangkolinlamil.

Sedangkan menurut Komandan KRI Teluk Bintuni-520, bahwa kapal perang yang dikomandaninya merupakan jenis Landing Ship Tank (LST) yang baru diresmikan pada 29 September 2014 dan diserahterimakan kepada TNI Angkatan Laut pada 17 Juni 2015 yang mempunyai panjang 120 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 11 meter ini bermesin ganda dengan kekuatan 6.570 KW itu mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 16 knot. Kapal perang berbobot mati 2.300 ton ini merupakan kapal berteknologi canggih, yang dirancang untuk mengangkut 10 tank tank MBT Leopard milik TNI AD yang berbobot 62,5 ton dan tank BMP-3F milik Marinir. (tnial.mil.id)

China Latihan Militer Besar-besaran Di Laut Cina Selatan

China
Manufer kapal perang China
Di tengah ketegangan tinggi di Laut China Selatan, Beijing mengumumkan mlakukan latihan militer besar-besaran di kedua udara dan laut pada hari Selasa 28 Juli 2015 dengan fokus pada sistem perang informasi.

Dengan lebih dari 100 kapal dan puluhan pesawat, China Militer Online melaporkan Beijing melakukan latihan besar dengan menembakkan -amunisi di Laut China Selatan.

Menurut Kementerian Pertahanan China, latihan yang berkonsentrasi pada sistem perang informasi antara angkatan udara dan pertahanan laut dan menghasilkan “terobosan baru” dalam kemampuan militer China.

Menggunakan berbagai senjata baru, serta “Segala macam taktik teknologi informasi,” kekuatan militer berhasil melakukan latihan anti-kapal selam, mencegat rudal anti-kapal supersonik, dan terlibat dengan objek kecepatan tinggi ketinggian rendah.

Karena fokus pada perang informasi, latihan dilakukan di “lingkungan elektromagnetik yang kompleks” yang disimulasikan dengan sistem pengawasan, pengintaian, dan peringatan dini untuk mendeteksi target.Departemen Pertahanan tidak mengatakan di mana, tepatnya, latihan berlangsung. (China Militer Online)

Rusia Tengah Memproduksi Pesawat Tempur Su-35 Untuk Indonesia

Su-35
Produksi Sukhoi SU-35
Ilya Kramnik, seorang wartawan dari kantor berita Kramnik melaporkan bahwa saat ini, Rusia tengah memproduksi 60 pesawat tempur Su-35 untuk Indonesia, Vietnam dan Venezuela. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia termasuk sebagai salah satu pengguna pesawat tempur canggih Su-35, pesawat ini merupakan penerus dari keluarga Su-30 yang kini digunakan oleh TNI AU.

Sukhoi Su-35 merupakan pesawat tempur generasi 4++, didesain dari basis Su-30. Komsomolsk-on-Amur menciptakan pesawat ini untuk melakoni beragam misi, atau biasa disebut dengan multirole fighter. Kehadiran Su-35 menjadi jembatan menunggu kehadiran pesawat tempur generasi ke 5 Sukhoi PAK-FA T-50.

Keputusan untuk mengakusisi Su-35 terhitung tepat, lantaran pesawat ini dilengkapi dengan TVC (thrust vectoring control) membuat Su-35 mampu terbang di landasan yang sangat pendek. Selain itu aura deterens pesawat satu ini terhitung kuat, karena beragam teknologi yang rahasia tertanam di tubuh Su-35.

Terlepas dari segala kelebihannya, Su-35 juga menyimpan sejumlah kelemahan diantaranya adalah biaya operasional yang terhitung tinggi dan hanya mengakomodir 1 pilot. Sehingga proses pendidikan pilot Su-35 terhitung sulit, lantaran tidak tersedianya kursi bagi siswa. Selain itu radar Su-35 masih menggunakan radar Irbis-E PESA (Passive Electronically Scanned Array), berbeda dengan pesawat tempur Typhoon yang telah menggunakan radar AESA (Active Electronically Scanned Array)

Kantor berita Lenta.ru juga menjelaskan bahwa pemerintah Rusia tengah mengincar beberapa pembeli potensial, diantaranya adalah Tiongkok, Brazil dan Pakistan. Kemampuan manuver, sistem elektronik yang canggih, ditenagai mesin 1175 dan mampu menghilangkan emisi radar, membuat sejumlah negara tertarik membeli penempur berat ini.

Kemampuan teknis Su-35 tergolong mengagumkan karena sanggup terbang dengan kecepatan mach 2.25, dengan jarak tempuh mencapai 3.600 Km dan terbang setinggi 18 Km. Dilengkapi dengan rudal R-172, dan Kh-31 a/p, dan kemampuan daya angkut senjata jauh lebih besar dibandingkan Su-30, senjata pertahanan jarak dekat Su-35 adalah senapan mesin GSh-301 (Tempo.co)

2015, Kecepatan Internet Di Indonesia Semakin Lambat Dan Paling Lambat Se-Asia

Internet
Internet
Kecepatan Internet di Indonesia tercatat hanya 1,9 Mbps.

TOKYO - Akamai Technologies kembali merilis laporan kecepatan koneksi internet di seluruh dunia. Dalam laporannya kali ini, akamai menempatkan koneksi internet di Indonesia pada peringkat 122 atau turun drastic dari tahun sebelumnya yang menempati peringkat 77.

Dilansir situs Akamai, pada tiga bulan terakhir tahun 2014 kecepatan koneksi internet rata-rata di Indonesia hanya mencapai 1,9 Mbps. Sehingga terjadi penurunan sampai 50% darikuartal sebelumnya. Pada kuartal III 2014, koneksi internet Indonesia sempat tembus 3,7 Mbps.

Kabar baiknya, kecepatan 1,9 Mbps itu masih lebih baik 16% dibanding tahun sebelumnya. Akan tetapi anjloknya kecepatan rata-rata koneksi internet di kuartal IV 2014 membuat posisi Indonesia merosot jadi di peringkat 122 dunia.
Average connection speed by asia pacific country region
Average connection speed by asia pacific country/region

Di wilayah Asia Tenggara sendiri, Indonesia menempati posisi belakang. Di atasnya, ada Filipina di urutan 101, Vietnam urutan 99, Malaysia urutan 75, Thailand di nomor 45 serta yang terbaik Singapura di posisi ke 12 dunia.

“Indonesia dengan kecepatan rata-rata 1,9 Mbps sedikit di bawah India dengan 2 Mbps. Anjloknya posisi Indonesia karena ada penurunan besar yang terjadi di kuartal ini,” demikian laporan Akamai.

Pihak Akamai Technologies mengaku heran mengapa terjadi kemerosotan yang begitu tajam. Akamai belum dapat mendeteksi penurunan besar kecepatan koneksi internet di Indonesia.

“Review dari data yang ada mengindikasikan kalau penurunan ini ada hubungannya dengan penurunan koneksi yang signifikan per kuartal dari salah satu penyedia layanan internet terbesar di negeri itu,” papar Akamai dikutip Solopos.com dari Detik, Kamis (26/3/2015).

Akamai tak menyebut penyedia layanan internet mana yang mereka maksud. Mereka juga menyatakan perlu investigasi lebih lanjut untuk menentukan secara pasti penyebab anjloknya koneksi internet rata-rata di Indonesia. “Investigasi tambahan diperlukan untuk menentukan mengapa hal ini bisa terjadi,” pungkas Akamai.

Secara keseluruhan, Akamai menilai pertumbuhan kecepatan internet secara global sudah cukup memuaskan. “Di 2014, kami melihat pertumbuhan yang sehat di semua pengukuran kami untuk konektivitas internet, adopsi broadband dan kesiapan untuk teknologi 4K,” kata David Belson dari Akamai.

Pada posisi pertama masih bertengger Korea Selatan yang belum juga tergoyahkan. Meski sedikit mengalami penurunan, warga Korsel bisa menikmati kecepatan koneksi rata-rata 22,2 Mbps. (Solopos.com)

Menteri Pertahanan Tegaskan Akan Mengganti Semua Alutsista Yang Umurnya Sudah Tua

Frigate PKR Sigma TNI AL
Desain Frigate PKR Sigma TNI AL
Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan akan mengganti seluruh alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang usianya sudah tua . Langkah tersebut diambil guna meningkatkan kualitas persenjataan TNI.

”Jadi, yang lama diganti barang-barangnya. Laut yang usianya 40 tahun, udara 30 tahun. Nggak ada nambah nambah, cukuplah. Sudah kuat kita ini,” ujarnya di Markas Besar TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Mantan KSAD ini mengakui, dengan pertahanan yang kuat, maka Bangsa Indonesia bisa mandiri di bidang ekonomi dan mampu menjaga sumber daya alam maritim.

Termasuk, mendukung Program Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang dicita-citakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). ”Kita bisa berdaulat pangan di laut, pengembangan infrastruktur maritim dan kekuatan pertahanan maritim,” katanya.

Senada, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi mengatakan, terkait dengan visi maritim, ada banyak alutsista milik TNI AL yang usianya sudah cukup tua sehingga perlu peremajaan dalam rencana strategi Minimum Essential Force(MEF). Ade mencontohkan, kapal-kapal patroli yang kondisinya sudah tua seperti fast patrol boat (kapal patroli cepat) serta kapal frigate dan korvet buatan Belanda.

”Ada beberapa alutsista yang usianya sudah tua yang harus diremajakan pada tahun ini. Contohnya, kapal frigate eks Belanda, itu kan buatan tahun 1967, ada enam kapal. Jadi, usianya kalau sekarang sudah 48 tahun,” kata Ade.
Frigate PKR Sigma TNI AL
Pengerjaan PKR Sigma pertama TNI AL di Belanda
Dari sisi kelayakan, kata Ade, kapal tersebut masih dapat digunakan karena kemampuan apungnya masih bagus namun tetap harus mendapat perhatian. Karena itu, TNI AL sudah mengurangi tugas combat kapal tersebut. Ade mengakui, belum seluruhnya kapal frigate diremajakan.

Kendati demikian, dua kapal pengganti sedang dalam proses pembuatan oleh PT PAL. ”Kita juga sudah memasukkan tambahan empat. Karena itu, kita mengharapkan tidak berubah secara signifikan secara jumlah, tetapi kualitas. Jadi enam kapal ini, dua sudah dimulai, empat kita masukan dalam revisi MEF,” katanya.

Kapal yang juga kondisinya sudah tua adalah empat kapal korvet buatan Belanda. Kapal yang diproduksi pada tahun 1980 ini sudah berusia 35 tahun. Ade menyampaikan, dua dari empat kapal tersebut sedang mengalami perbaikan pada tahun ini. Perbaikan tersebut mencakup kemampuan apung, kemampuan tempur, dan sistem persenjataan, sehingga kapal tersebut bisa digunakan hingga 5–10 tahun ke depan. ”Kita membutuhkan 151 kapal, nantinya itu semua diisi oleh kapal-kapal baru sehingga posturnya utuh,” katanya.
PKR Sigma TNI AL
Pengerjaan Kapal PKR Sigma TNI AL di Surabaya
Ade menambahkan, alutsista lainnya yang perlu diganti adalah pesawat udara untuk tactical maritime aircraft atau pesawat udara maritim taktis. Pesawat tersebut diperlukan untuk membantu kegiatan di laut. Termasuk, pengadaan 11 helikopter anti kapal selam (AKS).

”Kita ingin dihidupkan lagi skuadron pesawat AKS. Tahap pertama 11 helikopter. Apalagi, kapal kita konsepnya bahwa helikopter adalah bagian organik. Karenanya, semua kapal yang memiliki geladak akan dilengkapi helikopter sehingga punya kemampuan utuh untuk peperangan yakni, peperangan anti udara, peperangan anti kapal permukaan, dan peperangan anti kapal selam. Termasuk, dalam maritime surveilance dari kapalkapal itu sendiri,” ucapnya.

Begitu juga dengan kapal penyapu ranjau dan dua kapal selam milik TNI AL yang kini sudah tua. Ade menuturkan, dua kapal selam KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 sudah dioperasikan sejak 1980. (Koran-Sindo.com)

Indonesia Mampu Mandiri Kembangkan Teknologi Turbojet Untuk Misil Jenis Cruise

Cruise missile
Rudal jarak jauh, Russian Cruise Missiles
BANDUNG, itb.ac.id - Perkembangan teknologi bidang militer di Indonesia saat ini belum setara dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Rusia. Namun bukan berarti Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan peralatan untuk keperluan militer atau alat tempur sendiri. Penelitian yang dilakukan Dr. Firman Hartono, S.T, M.T., salah satu dosen Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung, telah membuktikan bahwa Indonesia juga mampu mengembangkan teknologi di bidang kemiliteran, yaitu teknologi mesin turbojet untuk misil jenis cruise.

Berbeda dengan misil balistik yang langsung diluncurkan dengan proyektil parabola dan jarak yang terbatas, misil jenis cruise adalah misil yang mampu terbang dengan jarak tempuh yang cukup jauh untuk mengejar target dan dengan ketinggian hanya kurang lebih dua puluh meter di atas permukaan laut. Kemampuan ini membuat misil jenis cruise  mampu menghindar dari radar dan menjadikannya sebagai misil yang efektif. Misil ini terdiri atas bagian navigasi yang terkomputerisasi, bagian bahan bakar, dan bagian mesin penggerak misil. Mesin yang menggerakkan misil tersebut adalah mesin turbojet.

Mesin Turbojet 500 N
Mesin turbojet yang dikembangkan Dr. Firman Hartono dinamai Mesin Turbojet 500 N. Mesin ini merupakan hasil kerjasama dengan rekan-rekan lain di berbagai bidang, seperti: aerodinamika, termodinamika, perpindahan panas, teknik produksi, dan material. Kerjasama ini dilakukan karena mesin turbojet misil adalah aplikasi dari banyak fokus keilmuan.

Dr. Firman Hartono juga menjelaskan bahwa alasan beliau memilih untuk melakukan penelitian terhadap mesin misil turbojet adalah karena kriteria pembuatan misil sendiri tergolong relatif tidak berat.

"Pengoperasian mesin misil yang biasanya hanya selama satu hingga dua jam membuat material dasar mesin mudah dicari di dalam negeri tanpa perlu impor dari luar. Kebetulan di Indonesia juga belum dikembangkan," ujar Dr. Firman Hartono.

Layaknya semua perjalanan yang sukses, penelitian ini juga menghadapi kendala dalam keberjalannya. Riset dan pembuatan mesin membutuhkan waktu yang cukup lama sedangkan pembiayaan riset dari pemerintah terbatasi oleh waktu. Bergantinya periode pemerintahan membuat birokrasi-birokrasi baru dalam pendanaan riset menjadi sedikit berbeda dan lebih sulit.

Selain bekerjasama dengan berbagai bidang lain, penelitian mesin turbojet ini juga bekerjasama dengan Kementrian Pertahanan dan Keamanan (KEMHAN) dalam hal pendanaan. Sayangnya KEMHAN baru bisa mengusahakan bantuan dana internal untuk riset ini pada tahun 2016. Akan tetapi, kendala ini tidak serta merta membuat riset terhenti. 

Dr. Firman menjelaskan bahwa masih ada komponen-komponen lain dari mesin turbojet tersebut yang bisa dijadikan bahan penelitian dan dikaji lebih dalam terlebih dahulu seperti efisiensi bahan bakar atau kompresor mesin. "Kalau pendanaan lagi macet seperti ini kita melakukan penelitian berbasis perhitungan dan komputasi, soalnya tidak perlu biaya besar," tambah beliau.

Mesin turbojet 500 N yang dikembangkan Dr. Firman Hartono ini sebenarnya adalah mesin turbojet yang sederhana. Namun dengan modifikasi dan riset-riset lanjutan, akan terus dilakukan perbaikan-perbaikan pada mesin turbojet tersebut. Pembuatan mesin turbojet yang berkualitas dengan biaya produksi yang rendah menjadi tantangan tersendiri di masa yang akan datang.

Dari mesin turbojet misil ini, diharapkan dapat lahir karya cipta teknologi lain yang lebih besar dari anak bangsa. "Kita harus memakai produk anak bangsa, yang dimulai dari keinginan untuk menciptakan karya dalam negeri seperti ini," tutup Dr. Firman Hartono.itb.ac.id

Peliputan oleh:
Fatimah Larassaty Putri Pratami (Fakultas Teknologi Pertambangan dan Perminyakan 2014)
Irfaan Taufiiqul R. (Teknik Kimia 2013)
Nur Huda Arif Indiarto (Teknik Kimia 2012)

Peserta ITB Journalist Apprentice 2015

Jumlah Satuan Komando Pasukan Katak Bakal Ditambah

Komando Pasukan Katak
Komando Pasukan Katak
SURABAYA - Jumlah Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL bakal ditambah, dari dua menjadi tiga satuan.

Penambahan ini mengikuti rencana pengembangan jumlah Armada Kawasan RI, dari dua menjadi tiga armada. Rencana penambahan Satuan Kopaska disampaikan Komandan Satkopaska Koarmatim Kolonel Laut (E) Yudhi Bramantyo seusai menyematkan brevet Manusia Katak pada mantan siswa pendidikan brevet Kopaska, saat penutupan pendidikan brevet Kopaska Angkatan XXXVIII, di Lapangan Laut Maluku, Komando Pengembangan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal), Bumimoro, Surabaya, kemarin.

“Kopaska yang semula dua satuan, akan ditambah menjadi tiga satuan, sesuai keberadaan armada yang akan dikembangkan menjadi tiga,” kata Yudhi Bramantyo, kemarin. Menurut dia, tiap armada, baik barat, timur, dan pusat, akan memiliki masing-masing Satkopaska. Tiap Armada ada satu satuan. Kopaska diperlukan negara seperti Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
Komando Pasukan Katak
Komando Pasukan Katak
Penambahan Satuan Kopaska ini terus dimatangkan seiring pengembangan armada yang terangkum dalam Armada Nusantara. Komandan Kobangdikal Laksamana Muda TNI I N G N Ary Atmaja mengatakan, Kopaska merupakan pasukan yang direkrut secara khusus dan dididik, dilatih secara khusus.

Dimana, prajurit Kopaska menggunakan peralatan khusus untuk melaksanakan tugas- tugas yang tidak bisa dilaksanakan pasukan reguler, khususnya dalam melaksanakan peperangan laut khusus, Naval Special Warfare . Pendidikan Kopaska, kata Ary, mempunyai tujuan dan sasaran, yaitu membentuk prajurit berkualifikasi Komando Pasukan Katak yang memiliki kecakapan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas beraspek empat media, yakni media darat, udara, permukaan laut dan bawah laut.

Diketahui, pada penyematan brevet kemarin ditampilkan sejumlah demonstrasi, di antaranya pembebasan sandera dari kelompok teroris. Dengan kesigapan dan keahliannya, Pasukan Katak berhasil melumpuhkan kelompok teroris tersebut. (koran-sindo.com)

Prancis Tawarkan Kapal Selam Siluman Tercanggih Di Dunia Ke Australia

Kapal Selam Siluman
Kapal selam siluman Prancis yang ditawarkan ke Australia
SYDNEY - Prancis menawarkan kapal selam siluman kepada Australia. Jika tawaran itu diterima, maka akan jadi kesempatan Australia untuk membangun armada kapal selam Australia.

Tawaran itu disampaikan perusahaan kontraktor Angkatan Laut Prancis, DCNS. Kapal selam ini berbobot 4.000 ton. Kapal tersebut dikenal sebagai Shortfin Baracuda bertenaga nuklir.

DCNS mengatakan itu "desain pra-konsep" untuk kapal selam siluman ini merupakan yang paling canggih di dunia.

Prancis, Jerman dan Jepang selama ini bersaing dalam kontrak untuk membangun hingga 12 kapal selam bagi Angkatan Laut Australia. Nilai kontrak itu senilai lebih dari 20 miliar dolar.

CEO DCNS Australia, Sean Costello, mengatakan kapal selam baru akan lama lebih saat menyelam dibandingkan kapal selam militer pada umumnya. ”DCNS adalah satu-satunya perusahaan desain kapal selam di dunia yang memiliki kompetensi kapal selam nuklir dan konvensional yang aman, mulai dari kapal 2.000 ton hingga 14.300 ton untuk Angkatan Laut di seluruh dunia,” katanya.

Seorang juru bicara untuk DCNS, Jessica Thomas, mengatakan, pihak perusahaan sudah memberitahukan kepada pemerintah Australia atas kesediaannya untuk berbagi teknologi kapal selam siluman.

”Teknologi ini adalah 'mahkota permata' dari desain kapal selam knowhow Prancis dan tidak pernah ditawarkan untuk setiap negara lain,” kata Jessica Thomas dalam sebuah email, seperti dilansir Reuters. (sindonews.com)