Ilmuwan Indonesia Kaharuddin Djenod, Siap Bangun Kapal Selam RI

Kapal selam rancangan Indonesia BPPT dan TNI AL
Kapal selam rancangan BPPT dan TNI AL
Jakarta – Pakar Arsitektur Perkapalan yang juga pendiri perusahaan desain perkapalan pertama di Indonesia, Kaharuddin Djenod menyatakan, pihaknya telah menyiapkan desain kapal selam sepanjang 30 meter.

Dengan dukungan pemerintah, Kaharuddin menyatakan kesiapannya membangun kapal selam tersebut untuk memperkuat sistem pertahanan Indonesia di bidang maritim.

“Saya siapkan desain kapal selam 30 meter, jika Indonesia mau buat dan jalankan itu dengan tenaga kita sendiri, saya siap untuk membangunnya,” kata Kaharuddin saat menerima Penghargaan Achmad Bakrie XIII di Djakarta Theater, Jumat (21/8).

Ilmuwan yang telah menimba ilmu perkapalan di Jepang selama 15 tahun ini berharap bangsa Indonesia mampu mandiri di bidang maritim. Kaharudin mengaku keuletan, dan dedikasinya pada dunia perkapalan terinspirasi pesan mantan Presiden Soekarno dalam pidatonya pada awal tahun 1950. Saat itu, Bung Karno berpesan agar bangsa Indonesia membangun industri maritim dan dirgantara jika ingin memperkuat pertahanan.

“Sebagai putra bangsa, saya ingin realisasikan pesan Bung Karno pada Januari 1950, hendaknya Indonesia membangun industri maritim dan dirgantara jika ingin memperkuat pertahanan,” katanya.

Ilmuwan Indonesia Kaharuddin Djenod
Ilmuwan Indonesia Kaharuddin Djenod
Pendiri perusahaan Terafulk Megantara Design ini berharap Penghargaan Achmad Bakrie XIII yang diterima dapat mendorongnya untuk terus mengamalkan pengetahuan yang dimilik dan berbuat yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.

Kaharuddin menerima Penghargaan Achmad Bakrie di bidang teknologi karena dinilai telah menopang perkembangan maritim Indonesia melalui melalui inovasi teknologi. Kaharuddin mengembangkan sistem dan metode yang terbukti mampu bersaing di dunia internasional.

Diketahui, Yayasan Achmad Bakrie bekerja sama dengan Freedom Institute memberikan Penghargaan Achmad Bakrie XIII kepada enam tokoh yang dinilai memberikan kontribusi dalam bidangnya masing-masing.

Selain Kaharuddin, Penghargaan Achmad Bakrie tahun ini diberikan kepada Azyumardi Azra dalam bidang Pemikiran Sosial, Ahmad Tohari dalam bidang Kesusasteraan, Suryadi Ismadji dalam bidang Sains, Tigor Silaban dalam bidang Kedokteran atau Kesehatan, serta Suharyo Sumowidagdo dalam bidang Ilmuwan Muda Berprestasi. (sp.beritasatu.com)

Kapal Perang Fregat PKR 10514 Andalan TNI-AL Rampung 50%

Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Ini dia penampakan terbaru dari proyek kapal perang PKR10514 yang dipesan Kementrian Pertahanan. Tampak dari gambar tersebut, PKR10514 telah lebih dari 50% rampung. Bentuk sesungguhnya dari fregat andalan masa depan TNI-AL ini telah tampak jelas. Bahkan tampak menara dan radar telah terpasang.
Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Seperti diketahui, Kementrian Pertahanan untuk tahap awal telah memesan 2 unit PKR10514. Kontrak pengadaan PKR 10514 telah ditandatangani sejak Juni 2012 lalu. Dalam kontrak senilai 220 Juta Dollar itu, juga disebutkan Transfer Teknologi yang akan didapat PT.PAL. Yaitu, pembangunan 4 buah modul serta integrasinya.

Setelah proses integrasi, sekitar akhir Desember 2016 atau awal Januari 2017 akan dilakukan sea trial. Nah, semoga saja semua jadwal yang telah direncanakan ini bisa berjalan lancar.
Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Kapal Perang Fregat PKR 10514 TNI-AL
Selanjutnya yang harus dikawal adalah pengadaan persenjataan untuk PKR 10514. Pasalnya, untuk melengkapi PKR10514 dengan Rudal Exocet, Rudal Mica, CIWS Millenium, serta torpedo masih dibutuhkan dana sekitar 60 juta euro. Nilai ini termasuk pengadaan perangkat perang elektronika ECM dan ESM buatan Thales. Namun demikian, PKR10514 sudah dipastikan dilengkapi sejumlah peralatan canggih. Diantaranya radar SMART-S MK2, STING-EO MK2 tracker, Integrated Bridge System serta Integrated Comms System hingga Kinglip Sonar. (arc.web.id)

TNI AL Luncurkan Kapal Bantu Hidro Oseanografi Ke-2 Di Perancis

Hidro Oseanografi (BHO) TNI AL
Upacara peluncuran  Kapal Bantu Hidro Oseanografi (BHO)ke-2 di Les Sables D’Olonne, Perancis (photo : TNI AL)
Bertempat di dermaga galangan kapal OCEA Les Sables d’Olonne, Perancis, telah dilaksanakan acara peluncuran kapal Bantu Hidro Oseanografi-2 (BHO-2) pada tanggal 3 Agustus 2015, yang dipimpin oleh Dirwilhan Ditjen Strahan Kementerian Pertahanan RI Laksamana Pertama TNI RM. Harahap, M.M. Acara peluncuran kapal tersebut ditandai dengan pemotongan tali menggunakan kapak sebagai tanda simbolis peluncuran kapal BHO-2.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Dirrenbanghan Ditjen Renhan Kementerian Pertahanan R.I Marsma TNI Tata Endrataka, Irops Itjenal Laksma TNI Arusukmono, S,E, Paban VI Slogal Kolonel Laut (T) Ir. Fitri Hadi Suhaimi, M.A.P, dan Personil Satgas Yekda Kapal BHO. Sementara dari pihak galangan kapal OCEA S.A Perancis dihadiri oleh Director Quality and Projects Mr. Luc Boulestreau, Project Manager Mr. Franck Mayet, serta sub-contractor OCEA.

Berdasarkan kontrak pengadaan kapal BHO yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan pihak galangan OCEA Perancis, maka dilaksanakan pembangunan kapal sebanyak 2 (dua) buah yang dimulai sejak bulan Oktober 2013 dan diperkirakan akan selesai pada akhir bulan September 2015. Peluncuran kapal BHO-2 ini merupakan kelanjutan dari pembuatan kapal jenis Multi Purpose Research Vessel (MPRV) sebelumnya yaitu KRI Rigel – 933 yang telah tiba di Indonesia, guna memperkuat armada survei dan pemetaan laut di jajaran Dishidros.

Setelah pelaksanaan launching BHO-2 ini, kegiatan yang akan dilaksanakan berikutnya adalah Harbour Acceptance Test (HAT) dan Sea Acceptance Test (SAT) untuk meyakinkan bahwa kapal dalam kondisi siap sebelum diserahkan kepada Kemhan/TNI AL. Selain itu kegiatan lainnya meliputi pelatihan awak kapal di Perancis pada pertengahan Agustus 2015, Military Seaworthiness, Uji L-1/L-2 dan Commodore Inspection. Apabila semua berjalan dengan baik sesuai rencana, maka kapal BHO-2 ini akan diresmikan sebagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) pada minggu pertama Oktober 2015, dan direncanakan akan berlayar menuju Indonesia pada pertengahan Oktober 2015. (tnial.mil.id)

Australia Akan Segera Bangun Frigate Dan Kapal Selam Siluman

Stealth Submarine
Stealth Submarine
SYDNEY - Australia akan menghabiskan dana A$89 miliar (dolar Australia) atau sekitar Rp884 triliun untuk membangun kapal dan kapal selam siluman dalam waktu lebih dari 20 tahun. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, Selasa (4/8/2015).

Proyek pembuatan kapal itu untuk jenis Kapal Frigrate SEA5000 dan Kapal Patroli Lepas Pantai SEA1180. Partai Liberal Australia memastikan proyek kapal selam siluman Australia akan dibangun di dalam negeri untuk melakukan penghematan.

”Hal mendasar yang telah kita lakukan hari ini adalah memastikan bahwa kita tidak hanya harus membangun kapal di Australia, (tapi) kita memiliki armada yang dibangun di Australia,” kata Abbott kepada wartawan di Adelaide, seperti dikutip Reuters.

Proyek kapal selam siluman Australia itu diperebutkan banyak kontraktor pertahanan. Di antaranya, ThyssenKrupp (TKMS) dari Jerman, DCNS dari Prancis, serta konsorsium Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries dari Jepang.

TKMS sudah “merayu” Pemerintah Australia dengan imbalan keuntungan ekonomi dan politik untuk merebut proyek besar itu. Sedangkan Pemerintah Jepang selama ini aktif terlibat pembicaraan dengan Abbott, terutama sejak sengketa maritim di Asia yang melibatkan China memanas.

Abbott juga tertarik untuk memperdalam hubungan keamanan dengan Jepang. Hal itu sesuai keinginan AS untuk dua sekutunya tersebut agar mengambil peran yang lebih besar dalam hal keamanan di wilauyah Asia, di saat kekuatan militer China tumbuh besar. (sindonews.com)

Vietnam Terima Dua Tambahan Kapal Selam Kilo Class Produksi Rusia

Vietnam Kilo Class
Kapal Selam Kilo Class Produksi Rusia
Vietnam pada Sabtu 1 Agustus secara resmi menerima dua tambahan kapal selam kelas Kilo produksi Rusia. Pada upacara komisioning di Cam Ranh Naval Base di Khanh Hoa, selatan Hanoi, Laksamana Pham Hoai Nam, komandan Angkatan Laut Vietnam, mengatakan tambahan kapal selam kilo menandakan dimulainya tahap baru dalam meningkatkan angkatan laut dan kemampuan tempur Vietnam.

Kapal selam itu diberi nama 184-Hai Phong dan 185-Khanh Hoa yang merupakan nama kota pesisir Vietnam. Saat ini Vietnam masih menunggu dua kapal selam Kilo Varshavyanka lagi untuk melengkapi enam kapal yang dipesan pada 2009 dari Shipyard Admiralty di St. Petersburg dengan anggaran sebesar US$ 2 miliar.

Dua kapal selam pertama, 182-Hanoi dan 183-Ho Chi Minh, diserahkan ke Vietnam pada bulan April tahun lalu. Pengiriman terakhir dijadwalkan akan dilakukan pada tahun 2016.

Rusia juga akan melatih awak kapal selam kilo Vietnam dan menyediakan suku cadang untuk perbaikan. Kantor berita Vietnam VNA melaporkan semua kapal selam ditugaskan untuk bergabung dengan Brigade Submarine 189

Dengan kekuatan enam kapal selam Vietnam akan menjadi kekuatan yang tidak bisa diremehkan oleh siapapun termasuk China yang terlibat konflik klaim pulau di Laut China Selatan.

Pham Hoai Nam juga menekankan dalam sambutannya bahwa penguatan angkatan laut Vietnam tidak dimaksudkan untuk menciptakan perlombaan senjata atau mencegah negara-negara lain, tapi hanya untuk melindungi kedaulatan negara dan menjamin perdamaian di kawasan itu.

Kapal selam kelas Kilo pertama dirilis pada awal 1980-an. Model terbaru kapal memiliki panjang hampir 74m, berat perpindahan 3.000 ton dan dapat beroperasi di kedalaman 300 meter dengan kecepatan 20 mil laut per jam. (Hanoi)

Tiga Kapal Perang Canggih Hasil Karya Putra-Putri Bangsa Indonesia

KCR 40 produksi PT. Palindo Marine
KCR 40 produksi PT. Palindo Marine
Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Muda TNI A. Taufiq. R meresmikan tiga kapal perang KRI Surik-645, KRI Siwar-646 dan KRI Parang-647 KCR 40 di Demaga Yos Sudarso Mako Lantamal IV Batu Hitam Tanjungpinang. Tiga kapal itu diproduksi di dalam negeri.

Dalam siaran pers yang disampaikan Dispen Lantamal IV, Sabtu (1/8/2015), Pangarmabar Laksamana Muda TNI A Taufiq menyerahkan R kepada ketiga komandan KRI serta didampingi Komandan Satuan Kapal Cepat Armada Barat Kolonel Laut (P) Suwito.

"Ketiga Kapal Cepat Rudal (KCR-40) sangat cocok untuk dioperasionalkan di perairan wilayah barat yang kondisinya lautnya relatif dangkal serta mempunyai gugusan pulau yang banyak sehingga memiliki daya pukul hit and run, ketiga kapal juga memiliki persenjataan antara lain meriam Kaliber 20 mm, meriam 12,7 mm dan senjata andalan yaitu rudal C-705," jelas Taufiq.

Dikatakan pula bahwa ketiga Kapal Cepat Rudal (KCR-40) produksi PT. Palindo Marine Shipyard Batam hasil karya putra-putri bangsa Indonesia dan akan bergabung memperkuat Satuan Kapal Cepat (Satkat) Armada Barat yang berpangkalan di Mentigi Tanjung Uban Kepulauan Riau.

Beberapa waktu lalu ketiga kapal ini KRI Surik-645, KRI Siwar-646 dan KRI Parang-647 diluncurkan pada tanggal 12 September 2014. Tiga (3) kapal tersebut telah dikukuhkan dan diresmikan masuk ke jajaran TNI AL oleh Menteri Pertahanan, Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro pada tanggal 27 September 2014 di Batam.

"Kalian tumbuhkan kebanggaan karena anda merupakan prajurit pilihan yang dipercayakan untuk mengawaki alutsista ini," tambah Taufiq.

Di samping itu pula Pangarmabar menekankan agar alutsista dirawat sebaik-baiknya karena dibeli rakyat Indonesia dan dipercayakan kepada Angkatan Laut untuk mengoperasionalkanya.

"Karena semuanya akan kita pertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat Indonesia," tutup Taufiq. (detik.com)

Sebagian Ruang Udara Indonesia Masih Dikuasai Singapura

Peta Kedaulatan Dirgantara Republik Indonesia
Peta Kedaulatan Dirgantara Republik Indonesia
Terbang di Ruang Udara Sendiri harus Izin ke Singapura ?

Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, membeberkan keprihatinannya. Pasalnya, saat menjabat Letnan Dua (Letda) pada 1974 silam, ia harus izin ke Singapura, hanya untuk menuju Tanjung Pinang, meski menerbangkan pesawat latih tempur TNI AU.

"Saya pernah terbang ke Tanjung Pinang (pada) 1974. Tapi harus lapor ke Singapura. Itu dianggap biasa. Saya di rumah sendiri, kenapa harus izin ke tetangga?," ketus Chappy dalam peluncuran buku 'Tanah Air dan Udaraku Indonesia' di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Rabu (29/7/2015).

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) itu menambahkan, saat itu bahkan Menteri Perhubungan beralasan, perizinan udara Indonesia ke Singapura untuk menjamin keselamatan.

Namun, ia justru merasa gerah lantaran terkait dengan persoalan kedaulatan. "Saya sedih, itu terkait kedaulatan," imbuhnya.

Prinsip menjaga perbatasan, lanjut Chappy, bukan menindak maling, melainkan mencegah agar maling tidak masuk. Oleh karena itu, sebagai wilayah yang menjadi penyebab perang, para prajurit militer harus memahami dan selalu menggelar latihan di kawasan perbatasan.

"Selat Malaka perbatasan. Tapi pengelolaan (udara) bukan di kita. Tentara itu perang. Kalau tidak, latihan perang di wilayah yang rawan perang. Di mana (wilayah rawan perang)? Ya perbatasan! Tentara Korsel (Korea Selatan) latihannya di perbatasan Korut (Korea Utara)," pungkas Chappy.

Cara Agar Bisa Rebut Pengelolaan Wilayah dari Singapura

Pengelolaan dan pengawasan kedaulatan udara Indonesia belum dikuasai penuh oleh pemerintah Indonesia meskipun Indonesia telah merdeka sejak 1945. Sejak 1946, wilayah udara sektor ABC atau di area Kepulauan Riau, yakni Kepulauan Natuna, masih dikendalikan oleh otoritas Singapura.

Hal ini karena sistem Flight Information Region (FIR) masih dipegang oleh menara kontrol udara atau Air Traffic Control (ATC) Singapura. Konsekuensinya pesawat sipil hingga tempur TNI harus izin kepada otoritas penerbangan sipil Singapura untuk tujuan koordinasi bila melewati wilayah sekitar Natuna. Hal ini karena diatur oleh regulasi internasional.

"Akibatnya pesawat militer latihan harus izin Singapura," kata Praktisi Penerbangan Indonesia Sudharmono pada acara diskusi navigasi dan penerbangan di Kantor LAPAN, Bogor, Kamis (19/3/2015).

Izin tersebut harus dilakukan karena menyangkut lalu lintas pergerakan penerbangan sipil di atas Natuna.
"Itu harus memberitahukan terkait keselamatan penerbangan sipil supaya nggak terjadi konflik dalam arti penerbangan bisa tabrakan," ujarnya.

Pengelolaan ruang udara oleh Singapura di atas sektor ABC sudah berlangsung sejak lama. Pemerintah Indonesia secara regulasi memang harus mengambil alih pengaturan dan pengelolaan 100% terhadap wilayah udara Indonesia.

Tantangannya adalah Singapura telah memiliki sumberdaya manusia terkait navigasi, peralatan, regulasi, hingga regulator yang sangat mumpuni dan mendukung.

"Rebut itu semua, kita harus bangun infrastruktur regulasi, SDM dan lobi. Itu lobi ICAO, IATA dengan negara lain seperti Singapura. Kita siapkan SDM dan peralatan butuh waktu 10 tahun," jelasnya.

Selain masalah kedaulatan, banyak manfaat yang diperoleh Indonesia bila ruang udara wilayah Natuna sektor ABC dipegang oleh ATC Indonesia.

"Secara ekonomi air space memang lewati laut. Di sana ada ongkos. Biaya komunikasi, biaya navigasi, biaya surveillance, biaya pengaturan lalu lintas," sebutnya. (okezone.com, detik.com)

KRI Teluk Bintuni-520 Laksanakan Uji Gladi Tugas Tempur Di Tanjung Priok, Jakarta Utara

KRI Teluk Bintuni-520
KRI Teluk Bintuni-520
Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Teluk Bintuni-520 yang dikomandani Letkol Laut (P) Ahmad Muharam dan berada di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) melaksanakan uji Gladi Tugas Tempur (Glagaspur) Tingkat L-1 yang dilaksanakan diatas kapal di Dermaga Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (29/07/2015).

Menurut Asisten Operasi Pangkolinlamil (Asops) Kolonel Laut (P) P. Rahmad Wahyudi S.E., bahwa sebelum melaksanakan latihan Glagaspur tingkat I, personel KRI Teluk Bintuni-520 telah mengikuti ujian secara tertulis di Komando Latihan (Kolat) Koarmabar, yang dibagi dalam tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan selanjutnya adalah tahap pengakhiran. Dalam pelaksanaan latihan tersebut, dilaksanakan peran-peran seperti peran operatif meliputi peran tempur bahaya kapal permukaan, kapal selam dan peran tempur bahaya udara. Sedangkan peran-peran yang lainnya yaitu peran administratif, peran darurat dan peran khusus.

Lebih lanjut Asops Pangkolinlamil mengatakan bahwa latihan Glagaspur tingkat I dilaksanakan secara rutin dua tahun sekali oleh setiap KRI yang aktif dalam menjalankan operasi sedangkan kapal yang tidak aktif atau berada dipangkalan dalam waktu yang lama maka uji L-1 harus dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Selain itu uji L-1 juga wajib dilaksanakan oleh KRI jika kapal selesai perbaikan dengan skala besar dan terjadi pergantian sepertiga dari jumlah personel yang ada atau menjalankan program yang di rencanakan oleh Komado Utama (Kotama).
KRI Teluk Bintuni-520
KRI Teluk Bintuni-520
Sasaran yang akan dicapai dalam latihan ini agar masing-masing anggota mampu mengawaki setiap Pos Tempur dan Pos Komando sesuai standard yang dipersyaratkan, sehingga memiliki kemampuan tempur sesuai dengan fungsi azasinya serta siap menghadapi tujuan operasi yang akan datang serta dapat mencapai hasil yang maksimal dalam Uji Terampil Gladi Tugas Tempur Tingkat I / L1. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme dan memantapkan pengetahuan, kemampuan, serta keterampilan tempur ABK secara individu maupun kelompok dalam bidang administrasi, prosedur dan komando yang berlaku dengan baik dan benar dalam rangka menghadapi pelaksanaan Uji Terampil Gladi Tugas Tempur Tingkat I, tambah Asops Pangkolinlamil.

Sedangkan menurut Komandan KRI Teluk Bintuni-520, bahwa kapal perang yang dikomandaninya merupakan jenis Landing Ship Tank (LST) yang baru diresmikan pada 29 September 2014 dan diserahterimakan kepada TNI Angkatan Laut pada 17 Juni 2015 yang mempunyai panjang 120 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 11 meter ini bermesin ganda dengan kekuatan 6.570 KW itu mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 16 knot. Kapal perang berbobot mati 2.300 ton ini merupakan kapal berteknologi canggih, yang dirancang untuk mengangkut 10 tank tank MBT Leopard milik TNI AD yang berbobot 62,5 ton dan tank BMP-3F milik Marinir. (tnial.mil.id)

China Latihan Militer Besar-besaran Di Laut Cina Selatan

China
Manufer kapal perang China
Di tengah ketegangan tinggi di Laut China Selatan, Beijing mengumumkan mlakukan latihan militer besar-besaran di kedua udara dan laut pada hari Selasa 28 Juli 2015 dengan fokus pada sistem perang informasi.

Dengan lebih dari 100 kapal dan puluhan pesawat, China Militer Online melaporkan Beijing melakukan latihan besar dengan menembakkan -amunisi di Laut China Selatan.

Menurut Kementerian Pertahanan China, latihan yang berkonsentrasi pada sistem perang informasi antara angkatan udara dan pertahanan laut dan menghasilkan “terobosan baru” dalam kemampuan militer China.

Menggunakan berbagai senjata baru, serta “Segala macam taktik teknologi informasi,” kekuatan militer berhasil melakukan latihan anti-kapal selam, mencegat rudal anti-kapal supersonik, dan terlibat dengan objek kecepatan tinggi ketinggian rendah.

Karena fokus pada perang informasi, latihan dilakukan di “lingkungan elektromagnetik yang kompleks” yang disimulasikan dengan sistem pengawasan, pengintaian, dan peringatan dini untuk mendeteksi target.Departemen Pertahanan tidak mengatakan di mana, tepatnya, latihan berlangsung. (China Militer Online)

Rusia Tengah Memproduksi Pesawat Tempur Su-35 Untuk Indonesia

Su-35
Produksi Sukhoi SU-35
Ilya Kramnik, seorang wartawan dari kantor berita Kramnik melaporkan bahwa saat ini, Rusia tengah memproduksi 60 pesawat tempur Su-35 untuk Indonesia, Vietnam dan Venezuela. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia termasuk sebagai salah satu pengguna pesawat tempur canggih Su-35, pesawat ini merupakan penerus dari keluarga Su-30 yang kini digunakan oleh TNI AU.

Sukhoi Su-35 merupakan pesawat tempur generasi 4++, didesain dari basis Su-30. Komsomolsk-on-Amur menciptakan pesawat ini untuk melakoni beragam misi, atau biasa disebut dengan multirole fighter. Kehadiran Su-35 menjadi jembatan menunggu kehadiran pesawat tempur generasi ke 5 Sukhoi PAK-FA T-50.

Keputusan untuk mengakusisi Su-35 terhitung tepat, lantaran pesawat ini dilengkapi dengan TVC (thrust vectoring control) membuat Su-35 mampu terbang di landasan yang sangat pendek. Selain itu aura deterens pesawat satu ini terhitung kuat, karena beragam teknologi yang rahasia tertanam di tubuh Su-35.

Terlepas dari segala kelebihannya, Su-35 juga menyimpan sejumlah kelemahan diantaranya adalah biaya operasional yang terhitung tinggi dan hanya mengakomodir 1 pilot. Sehingga proses pendidikan pilot Su-35 terhitung sulit, lantaran tidak tersedianya kursi bagi siswa. Selain itu radar Su-35 masih menggunakan radar Irbis-E PESA (Passive Electronically Scanned Array), berbeda dengan pesawat tempur Typhoon yang telah menggunakan radar AESA (Active Electronically Scanned Array)

Kantor berita Lenta.ru juga menjelaskan bahwa pemerintah Rusia tengah mengincar beberapa pembeli potensial, diantaranya adalah Tiongkok, Brazil dan Pakistan. Kemampuan manuver, sistem elektronik yang canggih, ditenagai mesin 1175 dan mampu menghilangkan emisi radar, membuat sejumlah negara tertarik membeli penempur berat ini.

Kemampuan teknis Su-35 tergolong mengagumkan karena sanggup terbang dengan kecepatan mach 2.25, dengan jarak tempuh mencapai 3.600 Km dan terbang setinggi 18 Km. Dilengkapi dengan rudal R-172, dan Kh-31 a/p, dan kemampuan daya angkut senjata jauh lebih besar dibandingkan Su-30, senjata pertahanan jarak dekat Su-35 adalah senapan mesin GSh-301 (Tempo.co)