Pengganti F-5 Tiger TNI AU, Menhan RI Berpaling Ke Pesawat Tempur Buatan Swedia

Jakarta – Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu mengaku tertarik dengan sejumlah industri militer dari Swedia, seperti persenjataan, sistem teknologi militer, termasuk pesawat tempur JAS 39 Gripen yang diproduksi oleh Saab.

“Prinsipnya kita akan mengganti alutsista yang sudah tua,” ujar Menhan dalam situs resmi Kementerian Pertahanan, di Jakarta, 9/5/2017.

Namun, lanjut Menhan usai pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Swedia Carl Anders Peter Hultqvist di Kalberg Castle, Stockholm, Swedia, Senin (8/5/2017), wacana penggantian alutsista itu tidak bisa dilakukan instan.
Pesawat Gripen Swedia (SAAB)
Pesawat Gripen Swedia (SAAB)
“Ada tahapan yang perlu ditempuh sebelum laporan disampaikan ke Presiden, yakni melalui perundingan terbatas antara sejumlah perusahaan industri pertahanan asal Indonesia dan Swedia,” ujar Ryamizard.

Kedatangan Menhan ke Swedia merupakan tindak lanjut dari persetujuan kerja sama dalam bidang pertahanan yang telah ditandangani Menhan RI bersama Menhan Swedia di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, pada awal Desember 2016.

“Semoga apa yang dibicarakan ini bisa terlaksana. Sebagai wujud keseriusan kami untuk kerja sama, di sini kami bawa lima direktur perusahaan industri pertahanan lokal dan pejabat utama dari Kementerian Pertahanan RI,” ujarnya.

Dalam kunjungan itu, Menhan didampingi, antara lain, oleh Dirjen Strahan Kemhan RI Mayjen TNI Yoedhi Swastanto, Dirjen Renhan Kemhan RI Marsda TNI Abdul Muis, Dirjen Pothan Kemhan Sutrimo Sumarlan dan Kabaranahan Kemhan Laksda TNI Leonardi. Turut pula sejumlah pimpinan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan Indonesia antara lain Dirut PT PAL Indonesia Budiman Saleh, Dirut PT Pindad Abraham Mosse, Dirut PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso dan Dirut PT Len Industri Zakky Gamal Yassin.

Menurut Menhan, peningkatan hubungan dengan Swedia di bidang pertahanan, dapat menjadi modal bagi Indonesia dalam menjalin hubungan yang lebih baik pula dengan negara-negara di kawasan Nordic lainnya, seperti Denmark, Finlandia dan Norwegia.

Menhan Swedia Carl Anders Peter Hultqvist mengapresiasi kedatangan Menhan RI beserta rombongan. Menhan Swedia menilai pertemuan kedua Menhan dapat meningkatkan mutu pertemuan sebagai mitra strategis, khususnya di bidang pertahanan.

“Nantinya kami akan melakukan pertemuan lebih dalam lagi. Kami juga punya banyak agenda dan kerja sama lain. Terimakasih atas dukungan dan kunjungan ini,” lanjut Menhan Swedia.
SAAB Gripen Jas 39
SAAB Gripen Jas 39
Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan Sutrimo Sumarlan, mengatakan, bila Indonesia telah memastikan untuk membeli alutsista jet tempur dari Swedia, maka harus ada beberapa hal prasyarat pemenuhan kebutuhan persenjataan yang telah disepakati dalam Memorandum of Undertanding (MoU) akhir 2016.

“Sesuai UU Pertahanan Negara, yaitu harus ada kesediaan untuk memberikan produksi offset, koordinasi dengan sistem G to G, dan transfer of technology (ToT),” kata Sutrimo.

Syarat lain yang perlu diperhatikan ialah transfer alih teknologi wajib melibatkan industri pertahanan lokal dari BUMN dan swasta. Bahkan, Swedia juga harus memastikan adanya garansi tidak akan terjadi potensi embargo di masa depan serta jaminan kelangsungan suku cadang maupun sistem pemeliharaan alutsista. TNI memiliki banyak perawat tempur berusia di atas 30 tahun serta kapal perang yang berumur lebih 40 tahun. Jika tidak ada rintangan, maka alutista darat dan udara usang itu akan diganti dengan alustista baru yang dibeli dari Swedia.

“Hanya saja itu masih wacana. Tahun depan baru kita pikirkan mengenai alutista apa saja yang sesuai kebutuhan kita. Intinya segala kemungkinan itu (wacana pembelian) tetap menunggu setelah dilaporkan ke Presiden,” jelas Dirjen Pothan.

Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksda TNI Leonardi menambahkan, tujuan kedatangan Menhan Ryamizard Ryacudu dan sejumlah pejabat utama Kemhan ialah untuk menjajaki kerja sama bidang pertahanan bersama pemangku kepentingan dari industri pertahanan Swedia.

“Contohnya, Swedia menawarkan kemungkinan kerja sama dalam pengadaan kapal, sementara kita juga sudah punya program-program untuk pengadaan kapal itu. Kita masih memikirkan apakah akan memilih Swedia atau negara lain,” ujar Kabaranahan.

Proses Pembelian Sukhoi Su-35 Super Flanker Tersendat
Sukhoi Su-35 ‘Flanker-E’
Sukhoi Su-35 ‘Flanker-E’
Masalah metode pembayaran menjadi sandungan utama sejak opsi pembelian Su-35 digulirkan, dan meski arahnya sudah ditentukan lewat offset masih ada beberapa poin yang perlu diluruskan bersama. Mengutip sumber dari Janes.com (5/5/2017), pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI telah mengkonfirmasi bahwa rencana untuk membeli pesawat tempur Sukhoi Su-35 ‘Flanker-E’ multirole masih tertunda karena “ketidakpastian” mengenai isu-isu yang berkaitan dengan transfer teknologi. Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa usulan pengadaan tersebut didiskusikan oleh pejabat Kemhan dan perwakilan senior dari agen ekspor militer Rusia Rosoboronexport pada 3 Mei 2017.

Masih dari Janes.com, pejabat dari Kemhan menyebut bahwa pengadaan yang diajukan Indonesia “telah melewati beberapa tahap, namun masih ada satu tahap yang belum sepenuhnya terwujud. Kemhan kemudian menjelaskan bahwa tahap kunci ini merupakan evaluasi yang dipersyaratkan dari tim Kemhan, yang menurutnya menentukan ketentuan termasuk kewajiban offset pertahanan dan juga “trade and funding.”

Ada satu tahapan yang belum direalisasikan yaitu Sidang Tim Evaluasi Pengadaan (TEP). Diharapkan hal tersebut dapat direalisasikan dalam waktu dekat, mengingat kerjasama ini merupakan “PilotProject” bagi Rusia. Hal ini dikarenakan banyaknya ketentuan baru yang menyertai proyek pengadaan SU-35 ini seperti komponen offset dan pendanaan. Meski tinggal melewati sidang TEP, perjalanan pengadaan masih belum dipastikan langsung lancar. Kemhan masih menunggu kepastian dari Kementerian Perdagangan terkait dengan offset dan ToT. Untuk itu Kemhan berharap semua pihak yang terkait dapat membantu proyek ini agar dapat segera terwujud, seperti TNI AU, Kementerian Perdagangan dan Rosoboronexport Rusia. Tentunya sesuai dengan kapasitas dan fungsinya masing-masing.

Apa itu offset? Dalam setiap pengadaan alutsista di hampir setiap negara dipersyaratkan adanya defence offset yang dibagi menjadi direct offset dan indirect offset. Direct offset yaitu kompensasi yang langsung berhubungan dengan traksaksi pembelian. Indirect offset sering juga disebut offset komersial bentuknya biasanya buyback, bantuan pemasaran/pembelian alutsista yang sudah diproduksi oleh negara berkembang tersebut, produksi lisensi, transfer teknologi, sampai pertukaran offset bahkan imbal beli.

Perjanjian Rusia-RI dalam kasus ini termasuk dalam kategori yang terakhir. Karena Rusia juga menyatakan kesiapannya pelaksanaan ToT untuk setiap alutsista TNI yang dibeli dari Rusia, mengadakan joint production untuk berbagai suku cadang alutsista TNI yang dibeli dari mereka serta mendirikan service center di Indonesia. Semua dengan catatan Indonesia membeli produksi alutsista dari Rusia, dan pastinya semuanya nilai offset dan ToT akan bergantung pada nilai kontrak pengadaan yang disepakati. (antara, Bayu Pamungkas)

4 Comments

  1. Beli pesawat tempur jangan tanggung2. Hrs yg hebat dan walau tak ada perang tapi menggetarkan. Gripen itukan sekelas f16, sekutu spt Australia tertawa karna tau kelemahan pesawat tsb. Kalau mau beli dari barat, yg sama dg Australia, f35 dg ancaman embargo. Sukhoi SU 35 mampu menggetarkan Australia, apalagi RI punya lebih dari 24 SU 35.

    BalasHapus
  2. ane pilih ToT gripeen ato Eurfighter(Inggris tuuh baex hati klo soal Tot ga pelit)...tp klo efeg getar ane pilih F-!6 uprgrade IAI(israeli)upgarde AU Israeel.. tuuh upgrade F16 israel kemmapuannya 3x kemmapuan F16C/D USA maupun F16 versi export laenya..bahkan lebih unggul dr F-15,f-18,SU 27/ SU-35.MIG 29,,,entee tau ga Israel beli dixit F35 tuuh cuman mau di tandinggin dg F16 upgradenya shg ntr dicarii kekuraanganya apa..ntr klo TNI AU dpt lungsurn F16 upgrade Israel tuuh australia pastii takutnya minta ampuun...ente tau ga..waktuu TNI AU belli bekas A4 dr Israel..Singapur dan Australia tuuh lgs mengxeret/mlempem takut ama keunggulan A4 bekas Israel..ampe ampe wilayah utaraa australia kekuatanya ditarik mundur ke tengah...takut klo klo A4 dpt masuk wilyah tsb..n pemasanagan radar canngih jindale pun akhirnya disetting sedemikianrupa mngatispiasi peswat sekleas a4 dan hawk yg mampu terbang sgt rendah,kssnya a4 Israel tsb sgt susah ditembak rudal Sam....... klo beli su 35 australi dah tau kelemhannya sbb ausiiee dpt bocoran dr USAf dan TUDM Malaysia.......makanya waxtu australi TNI AU tuh rencna belii Su#35 ga koar koar...tp entar xlo dpt F16 israel pst klebakan........liat aja waktu prtm x TNI pesen/beli F16 australi smptan panix dan protes ke Amrix...sbb waxtu waxtu TNIAU bsa aja dpt F16 dr Israel.....

    BalasHapus
  3. kata ibu Connie yang s2nya jebolan israel,,,beliau menyaranxan xlo indonesia ingin ditaxuti didunia maakaa solusinya adlh beliilah alutssita dr israel.....eeehehehe sy stuju buee...wwaxtu A4 exs isreaeli msh operasional penuh di wilyah nkri ga ada negara di kawasan asteng dan pasifix yg cem macem ama indoensia n disegani waktu itu..

    BalasHapus
  4. Kalau TNI kuat buatlah baja yg hebat spt rusia peralatan militernya dr titanium, kalau belum bisa buat industri dpt dikatakan hasilnya KW dan hasil buatan rusia/amirika masih bagus di gunakan di setiap operasi militer di wilayah Indonesia. Selamat bekerja buat baja sendiri yg bagus.....utk kekuatan TNI

    BalasHapus