Modernisasi Dan Pembelian Alutsista Baru Militer Indonesia 2017

Pemerintah terus memperkuat pertahanan Indonesia di tengah memanasnya situasi geopolitik regional. Modernisasi militer Indonesia yang telah dituangkan dalam tahapan minimum essential force terus dikejar, untuk membentuk postur pertahanan Indonesia yang modern, kuat dan disegani.

Pesawat militer A-400M Airbus
A-400M Airbus
A-400M Airbus
Disisi lain pemerintah juga antusias memodernisasi pertahanan Indonesia dengan menambah armada pesawat militer A-400M buatan Airbus, dan Indonesia telah menandatangani kesepakatan sementara Letter Of Intent (LOI) untuk membeli pesawat militer A-400M Airbus, ungkap kantor Kepresidenan Prancis pada hari Rabu.

Penandatanganan kesepakatan sementara itu diteken selama kunjungan Presiden Hollande ke Indonesia, dengan jumlah pesawat yang masih belum ditentukan.

Jika sudah lengkap Indonesia bisa menjadi negara kedua pelanggan ekspor pesawat A 400 yang bermasalah, setelah Malaysia.

Kapal Patroli Cepat (PC-40)
KRI Lepu-861 dan KRI Torani-860
KRI Lepu-861 dan KRI Torani-860
Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) kembali menerima dua Kapal Patroli Cepat (PC-40). Kedua Kapal Patroli Cepat (PC-40) tersebut akan memperkuat Satuan Kapal Patroli (Satrol) TNI Angkatan Laut di sepanjang perairan Selat Melaka. (Kamis (30/3).

Kapal ini memiliki panjang keseluruhan 45,5 meter dan lebar 7,9 meter, dengan kecepatan maksimal 24 knot serta kecepatan jelajah 15 knot. Kapasitas bahan bakar 70.000 liter dan memiliki endurance berlayar selama 6 hari. Dapur pacu kapal ini disokong 2 buah mesin diesel MTU yang masing-masing berkekuatan 2480HP.

Kapal tersebut dipersenjatai dengan meriam kaliber 30 mm otomelara pada haluan dan dua pucuk Senapan Mesin Berat (SMB) kaliber 12,7 mm pada buritan. Kapal patroli ini sudah dilengkapi mission management system, bila suatu waktu diperlukan kanon RCWS (Remote Control Weapon System) dengan mudah dapat dipasang.

Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR)
(PKR) I Gusti Ngurah Rai-332
(PKR) I Gusti Ngurah Rai-332
PT PAL Indonesia tengah menyelesaikan kapal perang kedua jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) pesanan TNI Angkatan Laut. Rencananya, kapal tersebut dikirim pada bulan Oktober 2017.

“Ada dua unit, satu sudah serah terima. Kedua mungkin Oktober-November kita serahkan,” ujar Direktur Utama PT PAL, Firmansyah Arifin, kepada detikFinance, Selasa (28/3).

Kapal perusak ini memiliki kemampuan untuk perang empat matra sekaligus, perang permukaan sesama kapal perang, perang bawah air melawan kapal selam, perang dengan udara pesawat tempur, dan perang elektronika. Kapal ini mampu membajak sistem persenjataan dan kendali dari kapal perang musuh.

Kapal Perang PKR 105 merupakan hasil kerja sama alih teknologi antara PT PAL Indonesia dengan perusahaan kapal Belanda Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS). Kapal jenis Frigate ini didesain untuk berbagai tipe peperangan serta dilengkapi pengamanan kemaritiman, SAR, dan misi kemanusiaan.

Kapal dengan nama I Gusti Ngurah Rai-332 ini memiliki panjang 105 meter dengan lebar 14 meter. Kapal perang ini mampu membawa 120 kru kapal dan memiliki kecepatan 28 knots.

Pengiriman Batch terakhir Leopard 2A4 Revolution RI
Leopard 2A4 Revolution RI
Leopard 2A4 Revolution RI
Pengiriman MBT Leopard 2A4 Revolution bakal tuntas pada Maret 2017. Kedatangan 21 unit tank Leopard 2RI maka lengkaplah sudah 61 unit tank Leopard 2RI ini diterima Indonesia, melengkapi 42 unit tank Leopard 2A4 yang telah tiba sebelumnya, untuk selanjutnya MBT ini akan diserahkan kepada Kavaleri TNI AD sebagai penggunanya.

Leopard 2 Ri merupakan versi Leopard 2A4 standar yang mendapatkan sejumlah upgrade dari Rheinmetall Defence. Letak perbedaan utama dengan versi 2A4, yakni pada Leopard 2 Ri telah digunakan lapisan komposit Advanced Modular Armor Protection (AMAP). Lapisan pelindung ini terdiri atas materi nanokeramik serta titanium dan baja alloy, yang diklaim memberikan kemampuan perlindungan yang jauh lebih baik. Karena sifatnya yang modular alias bisa dibongkar pasang, pengguna bisa memilih variasi kemampuan proteksi sesuai kebutuhan, seperti untuk menangkal granat berpeluncur roket (RPG) atau untuk peledak improvisasi (IED).

Dalam proyek pengadaan Leopard yang bernilai US$280 juta, jumlah tank bekas pakai AD Jerman yang akan dikirim sebanyak 153 unit, terdiri dari tank Leopard 2 Ri sebanyak 61 unit, tank Leopard 2A4 sebanyak 42 unit, dan sisanya tank IFV (Infantry Fighting Vehicle) Marder 1A3 sebanyak 50 unit. Selain itu kavaleri TNI AD juga akan mendapatkan 11 unit armoured recovery and engineering vehicles bekas pakai AD Jerman. Diantaranya adalah Bergepanzer 3Ri Buffalo, Pionierpanzer 2Ri Dachs, dan tank jembatan Bruckenlegepanzer Biber (Beaver) atau disingkat BRLPZ-1. (Sam)

Upgrade Sukhoi dan Pesawat Intai Strategis
Sukhoi 30 SK
Sukhoi 30 SK
Saat ini, Skadron 11 memiliki 16 pesawat Sukhoi yang terdiri atas Sukhoi 27 SK dan Sukhoi 30 SK. Namun, beberapa pesawat Sukhoi itu sedang tidak berada di Lanud Hasanuddin.

“Ada 2 yang standby jenis Sukhoi 27 SK, 2 pesawat sedang ada di Skadron teknik, 4 pesawat lagi perawatan tingkat besar atau di-upgrade di Belarus, dan 8 pesawat kita move ke Madiun untuk persiapan HUT TNI AU tanggal 9 April,” ujar Mayor (Penerbang) Setyo Budi, seperti dikutip Detik.com pada Kamis (30/3/2017).

Skadron 5 Intai Strategis memiliki 4 Pesawat Boeing 737-200 Intai dan 1 CN 235 NP. Setiap pesawat yang ada Skadron 5 dilengkapi radar dan kamera yang mampu mengambil data dari ketinggian 3.500 feet. Saat ini, pesawat-pesawat tersebut sedang diperbarui sistemnya.

Di Detasemen Pertahanan Udara Paskhas 472 Sultan Hasanuddin, yang dilengkapi 2 set persenjataan pertahanan titik. Satu set terdiri atas 2 meriam jarak jangkau efektif 5 kilometer buatan Swiss, command pos untuk operator radar, dan 2 truk pengangkut dan sejumlah rudal Chiron buatan Korea Selatan dan QW-3 buatan China.

Helikopter serbu AS550 Fennec
AS550 Fennec
Fennec TNI AD landing Skadron waytuba lampung
TNI AD memesan total 12 unit serbu ringan AS550 Fennec. Dikutip dari siaran pers PT DI (29/3/2017), disebutkan dua helikopter Fennec yang diserahkan pada Januari 2017 adalah dua unit intai pertama untuk TNI AD. Bersama dengan unit pertama yang telah diserahkan pada 2015. Sesuai dengan penempatannya, Fennec yang merupakan generasi penerus NBO-105 akan dibentuk menjadi satu skadron serbu ringan. Berdasarkan kesepakatan antara Airbus Helicopters dengan PT Dirgantara Indonesia, peralatan tempur untuk AS550 Fennec TNI AD mencakup senapan mesin dan peluncur roket FFAR yang akan dipasang oleh PT Dirgantara Indonesia di pabriknya di Bandung.

Fennec adalah versi militer dari seri helikopter Airbus Ecureuil. Seri ini terdiri dari tipe mesin tunggal dan ganda yang memiliki kemampuan adaptasi dan solusi sistem yang hemat biaya. Fennec disokong desain airframe dan fuselage dari bahan fiberglass khusus, sehingga bobot total helikopter ini jauh lebih ringan dibanding heli lain dikelasnya. Rotor utama Fennec dibuat dari bahan khusus Starflex, demikian pula untuk blade rotor, dibalut bahan komposit yang kuat dan mampu mereduksi kebisingan akibat putaran rotor. Sementara untuk urusan mesin, mengadopsi jenis Turbomeca Arril B agar mampu menahan tembakan senapan mesin kaliber besar, mesin diberi lapisan baja yang cukup tebal. Kendati punya kemampuan serbu, Fennec tidak memiliki senjata internal.

AS565 MBE Panthers anti-kapal selam
AS565 MBE Panthers
AS565 MBE Panthers
Pada hari Rabu (29/3) kemarin, Eurocopter Group mengumumkan bahwa dua platform dasar AS565 MBE Panther telah tiba di Indonesia untuk penyelesaian oleh PT Dirgantara Indonesia.

TNI Angkatan Laut memiliki pesanan 11 unit AS565 MBE Panthers kepada Eurocopter Group. Pesawat sedang dilengkapi oleh PT Dirgantara Indonesia dengan kemampuan anti-kapal selam, yang mencakup dipping sonar dan torpedo. Dua helikopter yang pertama akan dilengkapi dan dikirim pada pertengahan tahun 2017.

Eurocopter Group dan PT Dirgantara Indonesia bekerja sama pada sejumlah program untuk angkatan bersenjata Indonesia, memberikan satu H215M dan dua helikopter H225M untuk TNI Angkatan Udara, serta dua helikopter Fennec bersenjata untuk TNI Angkatan Darat.

Dua helikopter Fennec yang dikirim pada Januari 2017 merupakan unit pertama yang bersenjata untuk TNI Angkatan Darat. Bersama-sama dengan unit pertama disampaikan pada tahun 2015, tiga helikopter ini akan digunakan untuk pelatihan pilot. Sembilan tersisa dari 12 dipesan akan dikirimkan tahun ini.

Dua unit H225Ms yang dikirim bagi Angkatan Udara pada pertengahan Maret merupakan yang ketiga dan keempat dari batch enam unit pada kontrak. Sisa pengiriman akan selesai dalam beberapa minggu ke depan. Armada akan dikerahkan untuk CSAR.

Helikopter AH-64e Apache
AH-64e Apache
AH-64e Apache
Tahun 2013 lalu, Mabes TNI AD memesan delapan unit helikopter serang AH64E Apache ke pabrikan Boeing, Amerika Serikat (AS). Rencananya, unit helikopter ini akan dioperasikan oleh TNI Angkatan Darat atau tepatnya Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad).

Helikopter ini dilengkapi dengan beberapa fitur khusus untuk menunjang kemampuan nya dalam melaksanakan misi tempur. Fitur – fiitur tersebut diantaranya sistem radar penjejak target dan kendali penembakan Longbow, sistem deteksi target M-TADS, peluru kendali atau rudal udara ke darat AGM 114 Hellfire dengan daya jangkau efektif 8 kilometer, roket Hydra kaliber 70 milimeter, pylon peluncur rudal udara ke udara yang dapat dipersenjatai dengan rudal AIM-9 Sidewinder, Stinger, Mistral dan atau Sidearm, serta tak ketinggalan pula kanon M230 kaliber 30 milimeter yang mampu menembakkan sebanyak 625 butir peluru per menit nya. AH-64E Guardian dibangun berdasar basis helikopter AH-64D Longbow. Helikopter ini digerakkan dengan mesin T700-GE-701D.

Rencananya Produsen pesawat terbang Boeing akan mengirimkan Tiga unit helikopter pertama dari delapan unit AH-64E Apache ke Indonesia pada bulan November 2017.

Ada pula sejumlah pengadaan alutsista telah dituangkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah / RKP 2017. Kegiatan prioritas dari pengadaan alutsista TNI dalam rangka pemenuhan MEF yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2017 di bidang pertahanan adalah sebagai berikut :
  1. Kontrak efektif untuk 22 jenis Alutsista Strategis.
  2. Kontrak efektif untuk 20 jenis Alutsista produksi industri pertahanan.
  3. 24 unit panser pengganti Sarasen dan Saladin.
  4. 20 Unit meriam Artileri Medan (Armed).
  5. Pengadaan lanjutan helikopter Apache.
  6. 8 jenis munisi senjata KRI
  7. Satu Satbak rudal jarak sedang.
  8. 14 unit rudal air to air.
  9. 55 unit kendaraan taktis (Rantis).

1 Response to "Modernisasi Dan Pembelian Alutsista Baru Militer Indonesia 2017"

  1. Buat corvette 15 dulu, utk kelengkapan wilayah barat, tengah dan timur sbg kapal penghalau musuh kapal asing/pencuri ikan yg semakin berani/melawan

    BalasHapus