Su-35, Kapal Selam Dan Penangkis Serangan Udara Oerlikon Skyshield Akan Ditempatkan Di Natuna

Indonesia akan mengirimkan Pasukan Khas (PASKHAS) ke pulau Natuna besar, pengiriman pasukan khusus pengawal pertahanan udara ini akan disertai dengan sistem persenjataan meriam otomatis Oerlikon Skyshield. Indonesia juga merencanakan penempatan sistem pertahanan udara medium yang lebih kuat di Natuna, walau hal ini masih terkendala kemampuan anggaran negara.
SU-35
SU-35
Indonesia juga akan memperbesar hanggar pesawat tempur di pangkalan udara Ranai, hanggar tersebut diharapkan dapat menampung tambahan delapan pesawat tempur Su-35 yang akan dibeli dari Rusia.

Pembangunan hanggar tersebut akan menghabiskan anggaran sebesar US$ 91 juta, dan jika lancar tiada kendala, pada tahun 2019 hanggar penyimpanan pesawat tempur Su-35 sudah dapat diselesaikan.

Bersamaan dengan rampungnya pembangunan hanggar di Natuna, Indonesia kemungkinan akan menerima pengiriman bacht pertama Su-35 pada tahun 2018 akhir atau awal tahun 2019.

Penempatan Kapal Selam di Natuna
KRI 403 hiu kencana
KRI 403 hiu kencana
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan keinginannya agar TNI Angkatan Laut menempatkan kapal selam di setiap Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Hal tersebut seharusnya dapat terwujud jika kapal selam yang dipesan TNI AL dan Kementerian Pertahanan telah datang dalam satu hingga dua tahun ke depan.

“Kami tidak ingin kapal selam terpusat di Surabaya. Kalau setahun atau dua tahun lagi TNI AL punya kapal selam baru, setiap alur laut akan kami taruh kapal selam,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (7/4/2016).

Salah satu kawasan yang menurut Ryamizard membutuhkan kesiagaan kapal selam yakni perairan Natuna di Kepulauan Riau. Akan tetapi, menurut Ryamizard, wacana kapal selam di Natuna tidak berkaitan dengan potensi konflik di Laut China Selatan.

“Tidak ada hubungannya. Kami berhubungan baik dengan semua negara,” ujarnya.

ALKI adalah alur laut merupakan jalur pelayaran dan penerbangan damai yang ditetapkan oleh konvensi hukum laut internasional.

Alur Laut Indonesia menuntut agar lalu lintas pelayaran dan penerbangan internasional dapat terselenggara tanpa terganggu ruang udara dan perairan Indonesia.

ALKI terdiri dari tiga bagian. ALKI I terhubung dari Laut China Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa dan Selat Sunda.

Jalur ALKI II adalah Laut Sulawesi, Selat Makassar, Selat Lombok dan Laut Flores. Sementara ALKI III menghubungkan Samudera Pasifik, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai dan Laut Sawu.

Hingga kini, TNI AL baru mempunyai dua kapal selam, yakni KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402.

Belakangan, Kementerian Pertahanan memesan tiga kapal selam jenis Changbogo dengan mekanisme alih teknologi. Dua kapal selam akan diproduksi di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, K0rea Selatan.

Satu kapal selam sisanya, dibuat industri galangan kapal dalam negeri, PT PAL Indonesia.

Satu dari tiga kapal selam Changbogo, Maret lalu, telah selesai diproduksi dan diluncurkan dari Dermaga Okpo, Korea Selatan. Kapal selam nomor lambung H.7712 itu dibangun tahun 2013 silam.

TNI akan tempatkan Oerlikon Skyshield Di Natuna
Oerlikon Skyshield TNI
Oerlikon Skyshield TNI
Angkatan Udara Indonesia (Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara, atau TNI-AU) sedang mempersiapkan penyebaran unit dari pasukan khusus, yang dikenal sebagai Korps Pasukan Khas (PASKHAS) di Pulau Natuna Besar, pulau terbesar dari cluster kepulauan Natuna di Laut Cina Selatan.

Unit ini dilengkapi dengan sistem pertahanan udara Oerlikon Skyshield Rheinmetall yang akan ditempatkan di utara Pulau Natuna Besar dan sepanjang pantai timur pangkalan udara TNI-AU di Ranai.

Rencana penyebaran itu terungkap dalam transkrip yang diberikan kepada IHS Jane pada 5 April hasil dari pertemuan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dengan Komisi I DPR RI, terkait permintaan pendanaan untuk TNI-AU.
Oerlikon Skyshield TNI
Oerlikon Skyshield TNI
Skyshield adalah sistem pertahanan udara modular termasuk meriam multirole 35 mm otomatis yang dapat menembak hingga 1.000 peluru / menit pada pesawat musuh dan juga dilengkap amunisi presisi-guided. Sistem ini telah digunakan di TNI-AU Pangkalan Udara Supadio, Halim Perdanakusuma, dan pangkalan udara Hasanuddin.

Selama pertemuan itu juga ada permintaan dana untuk mengakuisisi tambahan sistem pertahanan udara jarak menengah untuk Pulau Natuna Besar, fasilitas untuk menampung hingga delapan pesawat tempur di pangkalan udara Ranai yang mungkin termasuk Su-27, Su-30 atau F-16, dan fasilitas skuadron kendaraan udara tak berawak (UAV) yang akan ditempatkan di sebelah timur dari Runway 36 dari pangkalan udara Ranai.

Fasilitas pesawat dan UAV diperkirakan menelan biaya USD 91 juta dan TNI telah mengatakan akan menyelesaikannya pada tahun 2019, apabila permohonan pendanaan disetujui.

TNI masih mengevaluasi pilihan untuk memperoleh sistem pertahanan udara jarak menengah dan tidak ada jumlah uang yang diminta diturunkan untuk sistem tersebut. (janes, CNN Indonesia)

1 Response to "Su-35, Kapal Selam Dan Penangkis Serangan Udara Oerlikon Skyshield Akan Ditempatkan Di Natuna"

  1. Ayo bikin sendiri
    Oerlikon Skyshield
    kita mampu.

    dedyaaa@gmail.com

    BalasHapus