TNI AU Siap Menguji Coba Pesawat Generasi Terbaru 4,5 G, SU-35

SU-35
Kokpit dan Avionik Radar Jet Tempur SU-35
Jakarta – Siang itu terbanglah pilot Agus Supriatna bersama sejumlah rekan mereka menggunakan pesawat Hawk. Ketiga pesawat memburu, dan memecah langit, dengan skenario hendak melumpuhkan pesawat musuh yang masuk wilayah Indonesia.

Cuaca sore itu tidak bersahabat, sementara pesawat Hawk yang dipiloti Agus Supriatna, tidak memiliki radar, sehingga hanya mengandalkan visual.

Awan kumulus mulai muncul dan harus mereka ladeni. Pesawat bermanuver, zig zag untuk menghindai awan cumulus. Manuver manuver tersebut berhasil. Mereka terus memburu ke kordinat pesawat musuh. Namun tak lama kemudian mereka kembali masuk ke awan. Kali ini mereka benar benar masuk ke dalam awan kumulonimbus. Ketiga pesawat terbanting banting di dalamnya. Ibarat seperti dadu yang dikocok, tidak ada yang bisa dilakukan pesawat keyika masuk awan kumulonimbus. Anda tinggal menunggu pesawat terpental kaluar dari awan tersebut. Persoalannya, adalah posisi seperti apa pesawat anda saat keluar dari awan.

Pesawat Agus Supriatna keluar awan dengan posisi, tinggal beberapa ratus meter dari permukaan air laut. Dia sempat mengontrol pesawat sehingga tidak terjerembab masuk ke dalam laut. Pesawat satu lagi juga berhasil bermanuver dan selamat.

Namun seorang rekan Agus Supriatna tidak lolos dari jebakan awan tersebut. Hingga kini, sang pilot dan pesawatnya, tidak ditemukan.

Peristiwa ini diceritakan Agus Supriatna yang kini telah berpangkat Marsekal dan menjabat KSAU.

“Radar sangat penting bagi pilot, karena dialah mata kita di angkasa”, tutur Marsekal Agus Supriatna di Jakarta, 24/11/2015.

“Kita punya pesawat baru, T-50i yang dibeli dari Korea Selatan. Itu barang, bukan masuk kategori pesawat tempur, karena tidak punya radar”, ujarnya.

“Setelah Hawk, kita punya Tiger, yang memiliki radar yang minim. Setelah itu kita punya pesawat F-16 dengan radar standar, dengan visual radar berwarna hitam putih. Pilot bisa mendeteksi awan kumulus/kumulonimbus yang tampil di layar dengan warna sangat terang, sehingga bisa dihindari pilot”.

“Kini kita akan membeli pesawat generasi yang lebih baru 4,5 G, SU-35. Kita akan beli satu skadron 12 unit, bukan 16 karena keterbatasan dana. Meski 12 unit, tapi akan disertai dengan persenjataan lengkap”, tambahnya.

SU-35 memiliki kokpit dan avionik yang lebih canggih, karena pesawat ini di atas generasi F-16. Visual radar akan tampil berwarna di monitor. Pilot Indonesia siap menguji kecanggihan radar SU-35. (JKGR).
Berita Terbaru

    0 Comment "TNI AU Siap Menguji Coba Pesawat Generasi Terbaru 4,5 G, SU-35"

    Posting Komentar