Indonesia Tidak Akan Lagi Menerima Hibah Alutsista Bekas Dari Negara Lain

Hercules C-130 TNI AU
Pesawat angkut Hercules, hibah dari Australia
Jakarta – Calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berkomitmen mendatangkan pesawat udara baru, bukan hibah atau bekas, ketika pengadaan yang akan datang.

“Saya sudah berkomunikasi dengan Komisi I DPR RI, untuk pesawat udara harus baru. Pengadaan yang akan datang harus baru, kecuali yang sudah terlanjur (proses pengadaannya),” kata Gatot di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Jakarta, Rabu (1/7) malam.

Hal itu dikatakan Gatot usai menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI yang dilaksanakan oleh Komisi I DPR RI.

Dia menjelaskan pesawat udara berbeda dengan alutsista yang berada di darat yang bisa diperbaiki di tempat apabila ditemukan kerusakan.

Namun, menurut dia, apabila pesawat mogok atau rusak ketika terbang maka akan hancur seperti beberapa kejadian kecelakaan pesawat milik TNI.

“Apabila pesawat mogok maka hancur sehingga komitmen saya dan Komisi I DPR RI untuk pesawat udara harus yang baru,” katanya.

Gatot menjelaskan Indonesia bukan negara kaya, namun semua alutsista yang sudah usang harus ditinggalkan dan diganti dengan yang baru agar operasional TNI bisa berjalan.

Dia mengatakan pembelian alutsista dari luar negeri harus memiliki transfer teknologi sehingga lambat laun Indonesia bisa memproduksi secara mandiri dan tidak tergantung dengan negara lain.

“Alutsista yang dimiliki Indonesia ada yang lama dan baru. Yang lama masih kami gunakan namun harus dipelihara,” katanya.

Dia menjelaskan kategori pesawat ada dua yaitu layak terbang atau tidak layak. Gatot mencontohkan pesawat Hercules produksi tahun 1964 masih digunakan Singapura dan Bangladesh, namun dilakukan sistem pemeliharaan secara berkesinambungan.

“Sistem pemeliharaannya setiap 50 jam terbang ada opname dan pengecekan lalu per tiga tahun dan per enam tahun dilakukan cek,” katanya.

Saat ini, menurut dia, ada 12 pesawat hercules tahun 1964 dan 12 dari produksi tahun 1975 ke atas. Dia mengatakan tidak mungkin menghentikan operasi pesawat Hercules tersebut meskipun dengan alasan pesawat sudah uzur.

“Apabila itu (pesawat Hercules) lalu kita mau menggunakan apa,” katanya.

Sebelumnya Komisi I DPR RI memberikan persetujuan pengangkatan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI, setelah melaksanakan uji kelayakan dan kepatutan, kata Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq di Jakarta, Rabu (1/7). (antara)

Adopsi teknologi untuk majukan industri pertahanan lokal
Jakarta – Panglima TNI Terpilih Jenderal Gatot Nurmantyo berharap adanya adopsi teknologi pada industri pertahanan lokal agar keinginan Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan industri perakit alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam negeri terwujud.

Gatot menilai industri pertahanan lokal harus dibesarkan, sehingga kelak TNI tidak seperti saat ini, membeli alat baru dari luar negeri maupun menerima hibah alutsista bekas dari negara lain.

“Kalau beli alat baru dengan transfer of technology. Jadi teknologi yang ada pelan-pelan diadopsi,” ujar Gatot di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat lalu.

Gatot mengaku telah mendengar sendiri instruksi Presiden Jokowi pada saat menghadiri Peringatan Ulang Tahun ke-69 Polri di Markas Korps Brigade Mobil, Depok, Jawa Barat. “Modernisasi alutsista, bahwa pesawat harus baru semuanya. Maksudnya bukan yang terbang harus baru semuanya, tetapi pengadaan harus baru semua,” kata dia.

Sesuai dengan perintah Presiden Jokowi, Gatot menegaskan, Indonesia tidak akan lagi menerima hibah alutsista bekas dari negara lain. “Harus baru,” ujarnya.

Gatot juga menyatakan, evaluasi pada pesawat Angkatan Udara juga harus dilakukan untuk memastikan bahwa pesawat layak terbang. “Tapi kalau lihat kemarin, kenapa bisa jatuh, apa masalahnya, nah ini kan harus kami evaluasi. Saya tidak bisa mengambil keputusan begitu saja,” kata dia.

Ia menjelaskan, masing-masing pesawat memiliki batas usia yang berbeda, namun pesawat yang sudah siap terbang berarti sudah dilihat dan dicek suku cadangnya. “Seperti Hercules, setiap 50 jam terbang harus opname, dicek lagi. Setiap tiga tahun opname besar, enam tahun keseluruhan,” ujar Gatot.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengeluarkan sejumlah instruksi untuk Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyusul jatuhnya pesawat Hercules C-130 TNI Angkatan Udara di Medan, Sumatera Utara. Pesawat itu menimpa bangunan, mengakibatkan 100 orang lebih tewas.

Pertama, Jokowi memerintahkan investigasi mendalam soal kecelakaan tersebut. Kedua, Menhan dan Panglima TNI diperintahkan melakukan perombakan mendasar tentang manajemen alat utama sistem senjata.

“Sistem pengadaan alutsista juga diubah. Kita tidak hanya membeli senjata, tapi juga merancang bangun, memproduksi, melakukan operasionalisasi, sehingga memudahkan penggantian alutsista yang sudah tua,” kata Jokowi, Rabu (1/7).

Pengadaan alutsista mesti diarahkan menuju modernisasi persenjataan TNI. “Saya ingin TNI memperkuat sistem zero accident atau kecelakaan nihil untuk penggunaan alutsista,” ujar Jokowi.

“Pesawat tempur, pesawat angkut, kapal perang, kapal selam, hingga helikopter serta perwira dan prajurit TNI yang mengawakinya harus berada dalam kesiapan operasional tinggi,” kata Presiden. (CNN Indonesia)

3 Comments

  1. Untuk Menjadi Negara Yang Mandiri Kita Harus Bisa Buat Rancang Bangun ALUSTISTA dan Exsport Bila Perlu Untuk Tambahan Devisa Negara. Pilihlah Negara Yang Bisa Flexible Dalam Membeli Peralatan ALUSTISTA tidak dengan Regulasi Bumbu Politik HAM. Yang Akhirnya Bisa Menghambat Pertumbuhan Pertahanan Nagara. Dan Transfer Teknologi Kita semakin Ketinggalan Dari negara Lain. Jadilah Bangsa Yang Mandiri Di Kaki Bumi Pertiwi NKRI.

    BalasHapus
  2. setuju sekali!!
    mnerima alutsista bekas atau hibah yg sdh uzur dan rongsokan,secara tidak langsung bisa merendahkan negara dan mengejek BUMN sprti PINDAD,PT.DI,PT.PAL,LAPAN dll..
    pdhal kita butuh alutsista modern dn canggih bukan besi tua rongsok!
    pemerintah harus menambah anggaran utk BUMN BUMN supaya memproduksi sdri alutsista secara mandiri.

    BalasHapus