Helikopter Tempur Dirgantara Indonesia "GANDIWA"

Helikopter Tempur Gandiwa
Gandiwa: illustration & design by militerhankam.com
GANDIWA Merupakan Helikopter tempur yang Diambil dari nama senjata busur yang berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas milik Arjuna yang didapat dari dewa Baruna, Helikopter Serbu yang dirancang PT. DI ini memiliki kemampuan menyergap target di darat, seperti musuh infanteri dan kendaraan lapis baja. Dikarenakan helikopter ini dilengkapi dengan persenjataan berat, kadang disebut juga sebagai gunship helicopter. Karena helikopter ini juga dapat dipakai untuk melakukan penyerangan, maka biasa disebut juga sebagai helikopter serang(attackt helicopter).

Senjata yang digunakan pada helikopter tempur ini dapat mencakup autocannons, machine-guns, roket, dan peluru kendali seperti Hellfire. Selain itu helikopter ini juga mampu membawa rudal udara ke udara, meskipun sebagian besar untuk tujuan pertahanan diri.

Secara umum, Dirgantara Combat Helicopter memiliki dua tugas utama :

Untuk memberikan dukungan udara secara langsung dan tepat bagi pasukan darat.
Sebagai anti-tank, dimana tugasnya adalah menghancurkan kendaraan lapis baja miilik musuh.

Design Development
Helikopter tempur GANDIWA adalah helikopter dengan konfigurasi 2 orang crew (1 orang pilot dan 1 orang co-pilot/gunner) dengan posisi tandem. Helikopter ini memiliki dua buah engine dan satu buah dengan empat bilah composite bearingless rotor utama (main rotor) dan satu buah rotor ekor (tail rotor). Helikopter ini dilengkapi juga dengan wing pylon untuk mensupport persenjataan yang dibawanya.

Helikopter Tempur Gandiwa
 Spesifikasi Teknis

Karakteristik umum

    Crew: 2 (pilot, and co-pilot/gunner)
    Length: 56 ft 1 in (17.1 m)
    Rotor diameter: 46 ft 0 in (14.0 m)
    Disc area: 1,662 ft² (154.4 m²)
    Empty weight: 6,789 lb (3,079 kg)
    Max takeoff weight: 11,900 lb (5,397 kg)
    Powerplant: 2 × Pratt & Withney Canada. PT6T-3BE Twin Pac Turboshafts, 900 shp (671 kw) each
    Fuselage length: 43 ft (13.1 m)

Performansi

    Maximum speed: 140 knots (259 km/h)
    Cruise speed: 122 knots (226 km/h)
    Range: 402 nmi (745 km)
    Service ceiling: 20,000 ft (6,096 m)
    Rate of climb: 1,350 ft/min (6.86 m/s)
    Power/mass: 0.2263 hp/lb (437 W/kg)

Persenjataan

    Guns: 1× 30 × 113 mm (1.18 × 4.45 in) M230 Chain Gun with 1,200 rounds
    Hardpoints: Four pylon stations on the stub wings.
    Rockets: Hydra 70 70 mm, and CRV7 70 mm air-to-ground rockets
    Missiles: Typically AGM-114 Hellfire variants; AIM-92 Stinger may also be carried.

15 Comments

  1. Semestinya pengelolaan PT.DI meniru perusahaan2 negara maju, yaitu dengan memproduksi prototype dulu sbg wujud/bukti suatu karya, utk selanjutx dilakukan uji publik dg sasaran pasar dalam negeri yaitu TNI, setelah TNI menguji kemampuanx yg tentunya dg kualifikasi setara & kalau perlu melebihi kualitas produk luar negeri ya pasti akan dibeli TNI. Tdk semestinya sebelum uji publik sdh ribut dg peluang pasar, apalagi pasar pasar internasional.

    PT. DI tdk semestinya bersikap spt anak kecil, yg dikit2 merengek & minta perlindungan. Sama seperti produk film nasional yg selalu minta proteksi pemerintah krn tdk mampu bersaing dg film Amrik.. terus menyalahkan penonton yg lebih memilik film Amrik, pdhal klo mau obyektif, mmg produk film kita kualitasx masih jauh di bawah film Amrik. Apa PT. DI juga semacam itu...buktikan dulu kualitas produk, stlh itu bicara pasar. Jgn dibalik bicara pasar dulu baru bicara produk, ini jls salah besar.

    Soal pasar baik dalam & luar negeri kenapa hrs khawatir, tanpa diminta mrk akan terus mengamati kualitas produk PT. DI. Jika mmg kualitasx baik & teruji tangguh, maka mrk akan datang dg sendirinya.

    Tdk semestinya muluk2 memperhitungkan pasar luar negeri, sebaikx cukup berorientasi pd pasar dlm negeri dulu. Media uji kualitas produk yg paling baik adalah pasar dalam negeri yaitu TNI, apalagi TNI kita mematok standar tinggi atas alutsista yg dipakai. Jika lolos uji pasar dalam negeri, maka tdk perlu ragu thd pasar luar negeri.

    Hal yg paling utama, PT. DI jangan menjual angan2 atau mimpi, tapi menjual karya nyata dlm bentuk produk jadi & lolos uji.

    Semoga PT. DI semakin maju & berkembang...

    BalasHapus
  2. yeesss ..benar banget komentar di atas...yg selalu di tunjukan perusahaan militer indonesia bukan prototype,tapi patung lilin dan di sertai beberapa halaman koran untuk sang membaca.mungkin untuk bacaan umum dan promosi konon.itulah yg ada di pameran produksi senjata indonesia.habis pameran,patung lilin di bungkus,lembaran koranpun di lipat,simpan di penyimpanan barang ,lalu karat koran pun hancur.tahun depan buat lagi patung lilin.itulah juga yg terjadi pada PT pindad .bicara dan impiannya naglor ngidul ,entah kemana,,bilangnya gak mau kerja sama dengan perusahaan luar maupun tot ,tapi apa yg terjadi tank pindad persis banget dengan mesin penyodok pasir...emang negara mana yg mau beli kalau tank gituan.....orang gak akan mau beli...nih masalah helikopter gandiwa..kapan mau buatnya ,sudah berapa tahun pakai cerita melulu,apa PT DI juga sekarang jualan obat..buat dulu lalu tampilkan ke publik,jangan ngomong doang gak habis2.,,mana ada negara beli barang ,kalau barangnya gak tau kayak apa,cerita gede,canggih,sangar,malah pak mentri pertahananpun bilang kalau boleh kemampuannya tidak jauh dengan apache...gak mungkinlah jauh banget,bagaikan bumi dan langit...kenapa kami gak yakin,sebabnya kerana selama ini cuma bisa jual obat,,,,gimana kami mau percaya..........

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini gan buatan pindad https://www.youtube.com/watch?v=b_KLB8te038

      Hapus
  3. Betul banget setuju ama komen d atas

    PT.DI cuma omong doang gk terealisasi helcop gandiwanya cma crita
    apalagi Pindad bikin tank buruk rupa kayak penyodok pasir di tampilkan aja malu apalagi yg makek akan lbih malu lg

    BalasHapus
  4. Komentar diatas orang malingsit, iri ya....!!!!

    BalasHapus
  5. Duite sopo? Embahmu? Pt Di ga jd bangkrut aja bersukur.... gandiwa mungkin msh angan2, tapi N219 sebentar lg bakal terwujud.semua berawal dari mimpi... Makanya sbg WNI kita wajib mendukung.ga cuma mencibir. Udah pd bayar pajak blum????

    BalasHapus
  6. coba indonesia meresmikan lagi kawasan lokalisasi2 di setiap kecamatan di indonesia pasti bagi yg bujang nasibnya kurang beruntung pengangguran yg gx sanggup kawin akan tertolong meniduri cewe2 cantik tanpa di tolak cintanya, karena cewe sekarang matre...insya allah di rahmati allah karena setiap nikmat untuk hambanya kemudian ucap syukur akan di tambah nikmatnya .. amin

    BalasHapus
  7. Betul tuh Ane Setuju Sama Komentar Yang Diatas,Yang Penting Tuh Hasil Karya Bangsa Bisa Bikin Sendiri Bukan Nyontek

    BalasHapus
  8. Semua pada banyak bacot,ngomong ngalur ngidul gak karuan,sama dengan PT DI yang sejak dulu hanya omdo tanpa ada realisasi.kenapa kok gak ada kolera yang nrempet orang2 yang. Hanya punya rencana alias omong doang

    BalasHapus
  9. nah gitu donk,,,jgn hanya bisa belii..kita harus buat dan pakai sendiri.''

    BalasHapus
  10. Aku akui dan bangga pd PT DI skrg atas semua prestasinya kecuali yang satu itu/heli gandiwa hanya omdo.

    BalasHapus
  11. Capek nungguinnya, kagak ada realisasinya...hoax. maaf ini karena sy cinta kemajuan produk militer kita tp kl tidak ada realisasinya lebih baik tidak usah dituangkan dalam berita....kesel tau...?

    BalasHapus
  12. Capek....gak ada realisasinya...

    BalasHapus
  13. cepetan buatnya biar bisa dipake nyerbu ke malaysia

    BalasHapus
  14. Saya percaya PT DI bisa buat Heli serbu, apalagi bila bila semua ahli diberbagai bidang teknologi dikumpulkan dan diminta keahliannya, tapi PT DI juga harus diberi dana riset yang cukup !!!

    BalasHapus